Tangan Ibu

“Kami segera membawa pergi ke UGD. Tetapi, inilah yang terjadi…Kami tak sempat menghubungi sanak saudara,” kata Pak RT yang kemudian memerintah para tetangga untuk menata kursi.

Aku menghambur ke tubuh ibu. Aku menahan tangis sekuat tenaga agar ibu pergi dengan tenang. Aku peluk erat-erat tubuhnya yang dingin. Aku cium tangannya yang bersedekap. Aku mencium sepuasnya. Mencium pintu surga-Nya. Mencium untuk yang pertama dan terakhir. (*)

 

Sidoarjo, 2017-2018

R. Giryadi. Selain bergiat di teater, dia menulis cerpen, esai, dan puisi. Karya-karyanya, selain dibacakan di berbagai kesempatan, juga dipublikasikan di media massa. Karyanya yang lain terbit dalam rupa kumpulan cerpen, kumpulan esai teater, kumpulan naskah drama, hingga antologi puisi.

Arsip Cerpen di Indonesia