Ya, aku tak berani menyentuh tangan ibu. Apalagi menciumnya. Bagiku, tangannya terlalu suci. Di sana keberlimpahan keindahan, cinta, dan kasih sayang tergambar. Bagiku, tangan ibu adalah lorong masa lalu yang begitu gampang mendaras air mata.
Aku tak berani menyentuhnya, tangan ibu laksana pintu yang selalu terbuka, lalu menyilakanku beristirah, melepas kepenatan. Meski rapuh, pintu itu ikhlas membuka. Ikhlas menunggu berlama-lama, ketukan demi ketukan. Tetapi, aku tak berani mengetuknya.
Setiap bertemu ibu, aku tak berani menatap tangannya. Tangannya bercahaya, laksana lorong yang mengantarku berjalan dari gelap ke gelap. Entah mengapa, setiap kali menyentuh tangan ibu, terasa sekali desiran darah ini dan bahkan denyut jantung ini terasa melaju.
Pernah suatu kali aku menyentuhnya dan hendak menciumnya, betapa aku seperti tersedot masuk dalam lorong yang begitu sejuk, tubuhku terasa sekali segar bugar dan tiba-tiba kepenatan hidup hilang seketika. Lalu dari bilik itu terdengar kidung-kidung yang dirawikan para pejalan yang mampir di surau-surau kecil, sepanjang lorong itu. Perawi juga mendongengkan kisah Rama Parasu, Sangkuriang, Malin Kundang, Sarip Tambak Oso.
Sekali lagi, tangan ibu begitu sempurna untuk sebuah kasih sayang. Dan, kasih sayang itu belum bisa saya balas dengan sempurna. Jangankan sempurna, sedikit sempurna saja, rasanya begitu sulit. Tetapi, bukankah ibu tak pernah meminta imbalan?
***
Hari ini, kami memang hendak memberikan kejutan kepada ibu, datang saat ulang tahun ibu. Ini kejutan sekaligus untuk membayar, pulang Lebaran yang tertunda. Dan, saya berjanji hendak mencium tangan ibu sebagai hadiah dan baktiku kepadanya. Itulah janjiku kepada istriku.
Aku pandangi teras rumah ibu. Seperti sebuah candi tempat para raja-raja menuju hening. Istriku menggendong Adam, putraku yang pertama, yang tertidur pulas selama perjalanan. Aku masih terpaku, melihat rumah yang begitu hening.
Istriku menggeletakkan Adam di amben, teras depan, kemudian mengemasi barang yang ada dalam mobil. Kami tak ingin suasana jadi ribut karena kedatangan kami yang mendadak. Kami ingin menjaga ketenangan ini dan bunyi tekukur perkututlah yang membuat suasana hening ini terasa kekal.
Istriku mengurus Adam, yang semakin pulas ketika digeletakkan di amben, bekas tempat istirahat kakeknya.