“Sendirian?” tanyaku sok akrab.
Dia menoleh sebentar. “O, ya. Sendiri. Kau?”
“Seperti yang kau lihat. Suka pertunjukan monolog?”
“Dulu. Sekarang tidak begitu. Kau?”
“Aku ke sini hanya ingin melihat Nor Agus membaca puisi.”
“Nor Agus? Penyair dan cerpenis itu?”
Baca juga: Haji Manap – Cerpen Faruqi Umar (Republika, 29 Juli 2018)
“Dia juga seorang sutradara. Pertunjukan-pertunjukan teater garapannya selalu penuh penonton dan dinikmati artis-artis terkenal.”
Dia diam. Aku menerka, kalau dulu dia memang penyuka teater, seharusnya dia mampu meraba maksud kata-kataku. Tapi karena dia tidak memberikan tanggapan, konsentrasiku kembali pada Gomblo yang kini duduk di kursi, menulis menggunakan mesin ketik, yang mengeluarkan suara-suara keras saat huruf-hurufnya ditekan. Dua perempuan, yang bertindak sebagai tokoh figuran dan sengaja tampil dengan ekspresi wajah dungu, duduk di lantai dengan rambut keriting yang dibiarkan terurai tak beraturan.
Para penonton sangat serius menghunjamkan tatapan ke panggung. Apakah mereka benar-benar menikmati pertunjukan atau sekadar mencairkan kebekuan-kebekuan setelah seharian mendekap di dalam kantor, aku tidak tahu. Penonton yang berdiri di sisi kanan semakin merangsek maju saat Gomblo berhenti mengetik, turun dari panggung, mondar-mandir memelototi penonton seraya berkelakar tentang nasib tak beruntung yang kerap menerpa para pekerja sastra.
Baca juga: Tendangan Dua Belas Pas – Cerpen Zaenal Radar T (Republika, 15 Juli 2018)
“Mau?” Perempuan itu menawarkan roti yang masih terbungkus plastik.
“Terima kasih.” Aku menatap wajahnya.
“Wajahmu mengingatkanku pada seseorang.”
“O, ya?” Dia menoleh. Matanya mengabarkan bahwa dia tidak percaya dengan apa yang kukatakan. “Wajahku memang pasaran.”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Aku tahu. Maksudku, di dunia, kadang, manusia yang satu dengan yang lain memiliki kemiripan wajah. Hanya satu yang membedakan, sidik jari. Jadi, wajar kalau kau merasa melihat seseorang pada diriku.”
“Kau sangat mirip.”