Pertunjukan Monolog

Apakah wajah cantik juga pasaran? Tapi aku yakin, kataku padanya, setiap orang yang datang ke kehidupan kita, entah hanya sekejap atau lama, baik yang secara sengaja atau tidak, pasti memiliki alasan-alasan, termasuk kau.

Dia hanya menyunggingkan senyum. Kuperhatikan penonton di dekat tiang tenda. Seorang perempuan mengenakan celana kain, mungkin seorang guru atau seorang karyawan sebuah kantor pemerintahan, sedang menahan anaknya yang berambut keriting, kira-kira berusia enam tahun, untuk tidak pergi kelayapan di sela-sela kerumunan penonton. Anak itu tetap memaksa. Akhirnya, perempuan berwajah lembut itu membiarkan anaknya lari-lari memutari area pertunjukan yang tidak terlalu besar. Pertunjukan masih terus berlangsung. Cahaya lampu yang ada di atas panggung seolah memisahkan kami sebagai penonton dengan Gomblo sebagai sebuah dunia yang sedang kami tonton. Ibarat sebuah film di bioskop, pertunjukan yang ditampilkan Gomblo adalah adegan-adegan yang ditampilkan pada sebuah layar melalui suatu sistem yang sudah dirancang khusus, sementara kami merasa seolah berada di dunia yang lain, dunia penonton. Padahal, antara kami dan Gomblo di atas panggung hanya terpisah oleh jarak kira-kira dua meter.

Baca juga: Bulan Memancar – Cerpen Tjak Parlan (Republika, 19 Agustus 2018)

Setelah hampir satu jam berlangsung Gomblo mengakhiri pementasannya dengan menundukkan kepala seraya diikuti gemuruh tepuk tangan penonton. Pembawa acara naik lagi ke atas panggung dan meminta dua penonton maju ke depan, meminta pendapat mereka tentang pertunjukan tadi.

Aku mengajak perempuan itu menjauh dari ingar-bingar panggung. Aku mengambil dua botol teh dingin dan membayar semuanya dengan uang 50 ribu. Seraya memberikan satu botol kepada perempuan itu aku menyebutkan namaku, dia juga.

Baca juga: Obituarium Origami – Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 02 September 2018)

“Bagaimana penilaianmu terhadap pertunjukan tadi?” tanyaku tidak ingin kehilangan kesempatan mengobrol dengannya.

“Jujur, aku tidak terlalu menikmatinya.” Dia kelihatan agak kaku. “Maksudku, aku tidak bisa menilainya secara objektif.”

“Kau terlihat tegang.”

Dia meminum teh botol beberapa tegukan. “Laki-laki yang tadi mementaskan monolog adalah mantan suamiku. Dulu kami sama-sama bergabung dalam satu kelompok teater.”

Arsip Cerpen di Indonesia