Balung Kere

Kemisteriusannya tetap dipertahankan—dan tegalan sepanjang tujuh puluh meter dan selebar dua puluh lima meter itu jadi liar ditumbuhi semak, dan katanya menjadi sarang ular. Tak pernah diinjak serta didatangi orang. Meski beberapa tahun kemudian si beberapa orang yang senang melakukan olah batin kejawen menyempatkan diri buat bertapa di bawah pohon kiara itu dan bilang: Di sana tidak ada apa dan siapa. Kosong seperti pohon turi pinggir sawah atau pisang di ladang belakang rumah. Melompong. Tapi, tak ada orang kampung yang percaya. Dan karena si wanita misterius itu—yang disebut dengan panggilan Mbah Nganu yang tinggal di bawah kiara jembatan Balung Kere—tetap disebut bersama leluhur lain di tiap doa saat ritual slametan dan kenduren diselenggarakan. Bahkan tetap disebut ketika doa menjelang awal puasa—lalu khusus diselenggarakan acara pendak tahun kematiannya.

Baca juga: Bidadari yang Tersesat di Neraka (Bagian 2-Habis) – Cerpen S. Jai (Jawa Pos, 14 Oktober 2018)

“Ya,” kata Katok Blentong—adik Blandar Setan—, “di sana memang tak ada apa-apa. Tapi, apakah itu penting bila kami percaya Mbah Nganu masih di sana.” Menurut beberapa orang yang bisa dipercaya, di lima malam setelah pemakaman itu, dari bakda Isya sampai tengah malam: Kuburan itu digali lagi. Lalu, mayat si wanita misterius itu dikeluarkan dan diam-diam dibawa pergi. Mula-mula digotong, lalu dinaikkan ke atas truk dan dibawa ke selatan, ke Ngiwa Purwa.

Dan, katanya, sejak saat itu diam-diam Sukrojendra menyelenggakan slametan tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, setahun, dua tahun, seribu hari, empat tahun, lima, enam, dan seterusnya—di tegal kanan jembatan kereta Balung Kere. Seperti menandaskan bahwa di sana—kemudian di bawah kiara itu—dikuburkan seorang wanita tanpa nama. Nun. Tapi, dibawa ke mana mayat wanita itu? Kenapa dipindah? Ada apa?

Baca juga: Bidadari yang Tersesat di Neraka (Bagian 1) – Cerpen S. Jai (Jawa Pos, 07 Oktober 2018)

Tidak ada yang tahu. Sejak malam itu—seusai mengantarkan surat ke rumahnya  kamituwa Wana Lambe, Gegrasana tak pernah ada terlihat lagi di Tinggrantul, di Desa Jakra, dan bahkan di Kecamatan Sarwa Doyong. Bahkan, di tujuh minggu kemudian, keluarga Sukrojendra pindah ke rumah warisan Nyi Mas Tibaniah di Ngiwa Purwa—nun di selatan, berbeda kabupaten. Alasannya ingin tetirah, meski ia dan istrinya tidak pernah sakit apa-apa.

Arsip Cerpen di Indonesia