Tapi, mereka tak pernah kembali ke Tinggrantul. Seluruh sawah dan ladang—kecuali tegal di kanan jembatan kereta Balung Kere, yang dipusokan itu—digarap penduduk dalam sistem paro. Dan kalau panen, semua bagiannya Sukrojendra disuruh disetor ke Babah A Hiuk, yang akan mengirimkan semua duit pembeliannya lewat bank. Tentu saja—setahun sekali—uang buat slametan bagi pendak tahun langsung diserahterimakan oleh Babah A Hiuk. Apa arti semua itu?
Apa yang sebenarnya terjadi?
***
Baca juga: Bangkai Anjing dalam Kepala Ayah – Cerpen Guntur Alam (Jawa Pos, 30 September 2018)
BERTAHUN kemudian, kata si beberapa orang: Di RSJ Jiwan Dawa, di Nglama, ada paviliun khusus yang dibangun secara pribadi di halaman belakang RSJ itu—lebih tepatnya di tanah yang dibeli khusus dan tepat ada di balik tembok halaman belakang. Daerah eksklusif yang dikeliling tembok dengan taman yang terawat—sehingga tidak sembarang orang leluasa mendatanginya, meski tidak dijaga sangat ketat. Katanya, itu bangunan tambahan untuk pasien privat khusus, yang keluarganya merupakan donatur yang menyubsidi separo biaya operasional setahun RSJ Jiwan Dawa. Pasien yang tak pernah terdaftar dan yang tidak pernah diketahui siapa dan dari mana. Pasien yang tak pernah dijenguk keluarga, pasien yang hanya terlongo sepanjang siang tapi selalu ada bercakap sendiri sepanjang malam—dan berkali-kali selalu mengerang orgasme.
Lima puluh tahun ia dirawat di sana. Sampai meninggal normal dan diam-diam dijemput keluarganya, dan lewat jalan belakang dibawa ke Ngiwa Purwa lewat Mbojang. Dan bertahun kemudian Raksesiani—mengutip apa yang dituturkan Mbok Junub, pembantu kepercayaan Nyi Mas Tibaniah—bilang itu Gegrasana. Dan ia dikuburkan diam-diam selepas tengah malam. Dikuburkan di sebuah makam tua yang tidak diberi nisan—tidak bertanda nama dan saat kematian atau sekadar kelahiran—, lahad tua yang diam-diam kembali digali. Lantas, Gegrasana yang telah dimandikan dan dikafani itu disandingkan di sisi sosok mayat wanita yang utuh membatu—kafannya melapuk dan karena itu dimandikan dan dikafani lagi—, meskipun telah terkubur lima puluh tahun. Kemudian, liang lahad itu ditimbun dan diberi nisan—tetenger yang berbunyi: Gegrasana-Nunukrawu—tidak terpisahkan ajal.
Baca juga: Misteri Seorang Tukang Cukur – Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 23 September 2018)
Tapi, benarkah wanita itu bernama Nunukrawu—bukannya Ayulia seperti yang dihebohkan banyak orang di Sarwa Doyong, dan terutama di Tinggrantul, serta lebih terutama di Balung Kere. Meski begitu, nisan itu tetap tanpa titimangsa. Meski—kata Raksesiani—, di setiap malam dari kuburan yang dinaungi pohon kiara kawak itu selalu terdengar suara orang bercakap, bercumbu, serta cekikikan suara kenikmatan perempuan di antara suara erang orgasme lelaki. Meski tak seorang pun yang berani mengecek, sekadar ingin tahu dengan mengecek apakah memang di belakang rumah keluarga Nyi Mas Tibaniah itu ada kuburan angker semacam itu. Tak ada seorang pun di seantero Ngiwa Purwa yang tahu akan hal itu, bahkan kalau di sana pernah ada satu prosesi pemakaman misterius seperti itu—mungkin karena si yang melakukan prosesi pemakaman rahasia tersebut cuma keluarga.