Balung Kere

Baca juga: Pencegahan Bunuh Diri – Cerpen Jaroslav Hasek (Jawa Pos, 16 September 2018)

Begitu kata Raksesiani. Dan dikutip semua orang kampung di Sarwa Doyong, di Tinggrantul, dan Balung Kere, meski itu kini hanya seperti obrolan iseng di warung kopi atau ketika jaga malam—tidak banyak yang tahu persis akan si peristiwa awalnya. Tapi, apa memang ada peristiwa seperti itu? Yang terjadi di tahun 1952 serta berakhir lima puluhan tahun kemudian? Sayang, orang-orang yang terlibat dalam peristiwa itu telah meninggal, tinggal keturunannya, si generasi kedua yang mengatakan cerita dari ingatan samar tentang semua detail yang pernah didengar dari cerita orang tuanya. Dan terkadang justru si pihak luar yang punya banyak cerita, tapi semuanya didapatkan dari cerita si orang lain. Samar. Kabur. Tidak bisa diverifikasi. Ataukah, dicoba untuk ada ditelusuri secara mistik dengan ritual memanggil roh. Apa ceritanya valid? Tapi, untuk apa sebuah kesahihan bila peristiwa itu telah terjadi lima puluh tahun lalu? Kata orang, fakta mengabur—dan titik postulat hanya berkah bagi sastrawan. (*/habis)

 

Beni Setia, pengarang.

CATATAN:

dadung: tali, biasanya dari jalinan ijuk yang dipilin;

sentir: lampu minyak

wingit: angker, dianggap berpenghuni setan

jarit: kain panjang perlengkapan busana wanita;

paro: menggarap lahan orang lain dengan sistem bagi hasil 50:50

kawak: tua

Arsip Cerpen di Indonesia