Keris Lancip Putri Nglirip

Di situlah, di sebuah lembah, kalian duduk berdua memandangi air terjun, atau orang-orang di situ memanggilnya grojogan. Kau selalu suka dengan suara air terjun. Meski gaduh, kau tetap menyukai suara itu. Suara yang tidak mengganggu sebagaimana sorak-sorai manusia menyanjung rajanya, atau lantunan tembang-tembang dari mulut orang buta nada. Jadi, kau selalu bisa merenungkan sesuatu jika berada di tempat itu. Sesuatu yang kadang-kadang bisa menjadi kidung-kidung sederhana untuk menyanjung Si Putri atau menjunjung keagungan Roh Nenek Moyang.

Baca juga: Musuh Bebuyutan – Cerpen Agus Salim (Media Indonesia, 14 Oktober 2018)

Tetapi, pagi itu kau tidak merenungkan apa pun. Sebab, kau akan mengajak Putri bicara tentang suatu hari ketika kau harus menikahinya. Bagaimanapun juga, ia orang yang kau cintai dan kau orang yang dicintainya. Kau tak ingin hari-harimu penuh dengan pekerjaan membosankan: dari waktu ke waktu hanya memintal rindu, hanya melumat jarak dengan khayalan-khayalanmu. Kau ingin satu rumah dengannya dan mengisi rumah itu dengan cerita-cerita bahagia.

Di tengah perbincangan mengenai pernikahan itulah, tiba-tiba datang seorang lelaki dengan tubuhnya yang kekar, memakai baju perang dan di tangannya terdapat keris yang ia genggam. Bagaimana ia bisa ada di sini dan kenapa ada keris di tangannya, kau tidak tahu. Yang jelas, kau kenal persis, keris itu milik ibumu. Ah, bukan. Keris itu sudah milik Putri Nglirip.

Baca juga: Gadis Kecil Bernama Alenia – Cerpen Haryo Pamungkas (Media Indonesia, 07 Oktober 2018)

Kau masih ingat satu tahun yang lalu, benda itu kau berikan pada Putri Nglirip yang kira-kira begini kronologinya:

“Aku punya sesuatu untukmu,” katamu sambil mengeluarkan keris lancip sepanjang lengan manusia yang kau selempangkan di balik punggung. Ia terperanjat. Tetapi, perlahan, tangannya menyentuh keris itu. Matanya menatap matamu seolah tak percaya di dunia ini kau punya sesuatu yang berharga selain kelamin dan kesetiaan.

“Anggap saja sekarang aku melamarmu,” katamu. Ia mula-mula tertegun, kemudian tak lama, kalau dalam hitungan waktu kira-kira satu menit lebih dua detik, ia tersenyum. Senyum yang membungkam semua perkataan dan hanya menghasilkan anggukan.

Arsip Cerpen di Indonesia