Keris Lancip Putri Nglirip

Kau akhirnya mengikuti gerak-geriknya: tersenyum dan mengangguk-angguk.

“Siapa dia?” bisikmu ke telinga Putri ketika lelaki itu mendekat.

“Aku tidak tahu,” balasnya dengan nada suara bergetar. Kakinya perlahan mundur. Ia ketakutan.

“Kenapa keris itu dia yang pegang?”

Putri menundukkan kepala. “Aku tidak tahu. Keris itu hilang sudah tiga hari yang lalu. Aku ingin memberi tahumu, tapi takut kamu marah. Aku takut kamu.

Baca juga: Lelucon Eyang Masnawi – Cerpen Mufti Wibowo (Media Indonesia, 30 September 2018)

Belum lengkap Putri bicara, ada banyak orang datang dari arah belakangmu. Semuanya memakai peralatan lengkap. Lengkap di sini berarti baju perang khas prajurit, tameng, pedang yang mengilat, dan wajah bengis yang tega melihat darah siapa pun mengalir. Itu sebenarnya sungguh tidak adil bagi peraturan peperangan di tempat mana pun. Tetapi, sebagai lelaki, kau akan tetap berusaha melawan.

Jelas, sekarang kau telah terperangkap. Di sekitar grojogan itu, tidak ada siapa-siapa, kecuali kau, Putri, dan orang-orang yang akan membunuhmu. Dan ketika mereka menyerbumu, kau berusaha melawan, dan tentu saja sudah bisa diduga pada akhirnya. Dalam waktu singkat, kau sudah menjadi orang paling menderita.

Baca juga: Laki-Laki yang Menyeret Sebuah Pintu – Cerpen Yudhi Herwibowo (Media Indonesia, 23 September 2018)

Sebelum benar-benar mati, kau dibawa ke hadapan seorang lelaki tua. Pikirmu itu adalah raja. Dan, ya, memang benar. Itu adalah rajanya. Dalam keadaan yang tidak berdaya, kau ditenteng, dan tanpa aba-aba, lelaki tua dengan tawa liciknya, menusukkan keris itu ke dadamu.

Dadamu bersimbah darah, matamu berkunang-kunang, dan entah detik ke berapa, detak jantungmu berhenti. Kau tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Ah, bukan, bukan itu maksudnya. Kau tetap tahu apa yang terjadi selanjutnya. Hanya, kau bisa tahu karena mata arwahmu, dan kau tidak mungkin melawan atas itu. Ketika tanganmu mengepal dan memukul satu per satu dari mereka, kau hanya memukul kehampaan. Duniamu dan dunia mereka sudah berbeda.

Arsip Cerpen di Indonesia