Lina dan Perihal Babi yang Divisum

“Tanta Ibu Udis, nanti beri tahu mama, kalau sudah ada uang hasil jual anak babi, tolong kirim untuk saya, kami harus kumpul uang wisuda, yang tidak kumpul sampai bulan depan, tidak boleh mengikuti wisuda.”

“Butuh uang berapa lagi?”

“Satu juta dua ratus.”

“Iya, nanti tanta ibu sampaikan ke mama.”

Mengetahui balasan anaknya, Lina jelas bergembira, anaknya akan wisuda. Setidaknya ini akan jadi pertempuran terakhir yang harus ia jalani demi menuntaskan proses perkuliahan anaknya. Usaha kerasnya selama bertahun-tahun akan terbayar sebentar lagi.

Baca juga: Bisnis Keluarga – Cerpen Soe Tjen Marching (Koran Tempo, 13-14 Oktober 2018)

Di pasaran, harga seekor anak babi sedang bagus. Anak babi berusia sebulan bisa berharga lima ratus hingga tujuh ratus ribu, tergantung bentuk tubuh dan jenis kelamin. Yang gemuk dan jantan memiliki harga yang lebih tinggi. Jika menjual lima ekor anak babi, sesudah dibagi dua untuk Pak Mateus dan tiga untuk Om Goris, jelas ia akan mendapat uang yang lebih dari cukup untuk dikirim ke anaknya.

Sejak Witu beranak, hari-hari Lina dilalui seperti biasa, ia semakin rajin ke bukit untuk mengumpulkan makanan bagi Witu dan lima ekor anaknya. Calon pembeli pun beberapa kali datang untuk melihat. Harga telah disepakati, seekor akan dihargai enam ratus dua puluh lima ribu. Itu artinya, tidak lama lagi ia akan mendapat uang tiga juta seratus dua puluh lima ribu.

Baca juga: Memburu Sekutu Iblis – Cerpen Ken Hanggara (Koran Tempo, 06-07 Oktober 2018)

Hari berganti, keenam anak babinya makin kuat dan sehat. Mereka mulai bergerak aktif, beberapa sering keluar dari kandang lewat celah kecil di sepanjang sisi kandang. Berulang kali Lina menutup celah itu dengan bilahan bambu juga batu, tetapi tetap saja ada celah yang terbuka. Sebab, Witu sering mengendus dan mendorong batu penutup dengan ujung mulutnya. Sedikit saja lalai menambal lubang, anak babi itu akan berkeliaran di luar kandang. Berada di luar kandang jelas berbahaya bagi anak babi. Mereka akan jadi santapan anjing yang berkeliaran.

***

Tiba-tiba pagi itu, Lina menangis sejadi-jadinya, seperti sedang mengalami peristiwa duka yang luar biasa. Air matanya terus menetes sejak pagi buta, badannya terasa lemas, tak tahu harus berbuat apa, setelah memindahkan kelima ekor anak babinya dari luar kandang. Di tengah kebingungan, ia ke kamar, mengenakan kain, dan tanpa membasuh wajah ia berjalan cepat menuju kantor polisi.

Arsip Cerpen di Indonesia