“Selamat pagi, Pak, saya mau melapor, Pak.”
“Selamat pagi, ada apa, Ibu?”
“Saya, mau melapor babi saya.”
“Kenapa babinya, Ibu?”
“Babi anak, yang kecil lima ekor punya saya, digigit anjing.”
“Siapa punya anjing yang menggigit babinya Ibu?”
“Anjing tetangga, Pak.”
“Hahahaha.”
Seluruh isi ruangan menertawakan laporan itu. Beberapa orang polisi merekam laporan itu dengan telepon genggamnya dan membagikannya ke media sosial. Sebab, ini kali pertama ada yang melapor kasus anjing menggigit babi.
“Baik, Ibu, kami terima laporan Ibu, nanti besok Ibu bawa babinya, kita akan visum di puskesmas, supaya tahu penyebabnya.”
“Baik, Pak, terima kasih.”
Sepulang dari kantor polisi, hati Lina tetap tak tenang. Ia tak paham apa itu visum dan tak mengerti apakah visum itu bisa menyelamatkan lima ekor babinya dari kematian. Ia mengiyakan sebuah anjuran yang tak pernah ia pahami.
Baca juga: Los Muertos – Cerpen Putra Hidayatullah (Koran Tempo, 22-23 September 2018)
Sesampainya di rumah, kelima ekor babinya yang terluka parah itu telah mati. Luka di sekujur tubuh telah merenggut nyawa anak-anak babi itu. Hatinya remuk. Dari luar kandang, ia menatap babi-babi kecil yang tergeletak di samping induknya dengan harapan yang pupus. Ia jelas teringat akan putrinya di Malang yang menanti kiriman uang sejak tiga minggu yang lalu.
Dua hari sejak laporan kepada polisi itu, wajah Lina dalam video berdurasi kurang dari lima menit telah bertebaran di laman akun media sosial. Orang-orang menertawakan laporan itu. Mereka menganggap itu kisah yang aneh. Ada juga yang beranggapan perempuan di dalam video itu tidak waras. Beberapa lainnya mengkritik polisi yang tidak cukup cerdas, bagaimanapun, polisi mestinya mampu mendefinisikan maksud laporan Lina dan menunjukkan jalan keluar, bukan malah menyuruh melakukan hal di luar nalar-memvisum babi di puskesmas.