Bangku Tua Milik Bapak

Yang menjadi pertanyaan terbesar dalam hidupku sampai saat sekarang ini adalah mengapa bapak tidak pernah bosan dengan tampilan senja yang begitu-begitu saja. Aku yang baru menikmati senja setengah tahun belakang saja mulai bosan. Bagiamana bapak tidak bosan dengan senja yang ia lihat sejak puluhan tahun lalu itu?

Hal yang paling membuat hati bapak sedih yaitu ketika langit sore dipenuhi oleh gumpalan awan hitam yang pekat. Disaat itulah bapak tidak bisa melihat keindahan senja yang selalu dinantikannya. Akan tetapi, bapak tetap duduk di bangku tua miliknya sembari memandang ke luar jendela. Menatap layu ke arah langit yang berwarna gelap. Ibu akan tetap membuatkan cemilan untuk bapak. Rasa sayangnya yang begitu besar kepada bapak tidak pernah memudar.

Baca juga: Petang di Taman – Cerpen Iin Farliani (Padang Ekspres, 14 Oktober 2018)

Hingga usia mereka tak lagi muda. Permukaan kulit yang tadinya masih kencang mulai mengendur. Muncul keriput di sana-sini. Rambut yang mulanya berwarna hitam legam mulai memutih dan akhirnya sempurna berwarna putih. Menandakan usia mereka tak lagi muda. Bahkan gelisah mulai datang menghantui. Ajal tidak akan lama lagi datang menyapa. Ibu jadi sering sakit. Pun dengan bapak yang sering batuk, demam, dan tubuhnya lemah seketika.

Sebagai anak tunggal, aku belum bisa menuruti keinginannya. Sampai sekarang, permintaan bapak belum juga aku penuhi. Bahkan ketika bapak meninggal dunia, aku belum juga memenuhi keinginannya yang ingin melihatku menikah dengan seorang perempuan. Ah, sepertinya aku telah membuat bapak kecewa.

Baca juga: Tiomina – Cerpen Jeli Manalu (Padang Ekspres, 07 Oktober 2018)

Setelah kepergian bapak. Bangku tua yang terbuat dari bambu itu masih berdiam di tempatnya. Menghadap sempurna ke jendela. Ibu yang masih setia dengan rasa sayangnya, tidak pernah lupa membuatkan cemilan yang diletakkan di meja bambu, tepat di depan bangku tua milik bapak.

Sering kali aku menangis melihat kelakuan ibu. Tubuhnya juga semakin renta. Gurat wajahnya yang dulu cantik muncul keriput di sana-sini. Aku belum juga bisa mengabulkan permintaan bapak. Hingga suatu senja, aku duduk di bangku tua milik bapak. Menatap ke luar jendela dengan mulut terkatup rapat. Ada ketenangan yang kurasa. Damai menyelusup masuk ke dalam hati. Menawarkan rasa nyaman yang luar biasa. Pantas saja bapak tidak pernah bosan duduk di bangku tua miliknya sembari menatap senja. Kenyamanan itulah yang selama ini dirasakan oleh bapaknya.

Arsip Cerpen di Indonesia