Bangku Tua Milik Bapak

“Mau sampai kapan kamu sendiri terus? Ibu sudah tua, tidak bisa terus-terusan membuatkan sarapan, makan siang, dan juga makan malam untukmu.”

Suara ibu terdengar serak ketika berjalan susah payah untuk meletakkan cemilan yang dibuatnya ke meja bambu yang menghadap ke luar jendela. Aku menghela napas panjang. Bukannya aku tidak mau menikah, hanya saja aku masih bingung menentukan pilihan. Sedangkan umurku juga semakin bertambah tua. Aku sendiri bahkan sempat membayangkan masa tua dalam kesendirian, tanpa seorang istri.

Baca juga: Teh Kenangan – Cerpen A. Warits Rovi (Padang Ekspres, 30 September 2018)

“Melihat ibu masih sehat saja, Rifki sudah senang, Bu,” kataku lirih.

Ibu tidak menjawab. Membisu dalam pikirannya sendiri. Kepergian ibu kembali menghadirkan sepi. Bangku tua milik bapak bergoyang. Kurebahkan tubuhku yang lelah di atasnya. Tak peduli dengan senja yang telah pergi sejak beberapa menit yang lalu. Pikiranku benar-benar kacau kali ini. Bangku tua milik bapak tak lagi menawarkan kenyamanan. Perkataan ibu barusan sungguh membuat dadaku sesak. Pikiranku bercabang ke mana-mana. Belum lagi memikirkan pekerjaan yang menguras tenaga serta pikiranku.

Keesokan harinya adalah hari yang menyesakkan bagiku. Setelah ibu menanyakan kapan aku akan menikah di samping bangku tua milik bapak, ibu meninggal dunia paginya. Aku tak tahu harus berbuat apalagi. Seluruh tenaga rasanya lenyap ditelan bumi. Memudar bersamaan dengan terkuburnya jasad ibu di dalam liang lahat. Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang.

Baca juga: Karomah Sebatang Lidi – Cerpen Zainul Muttaqin (Padang Ekspres, 09 September 2018)

Tidak ada lagi pemandangan sosok bapak yang setiap senja menyapa, duduk di bangku tuanya yang terbuat dari bambu itu. Tidak akan kujumpai lagi sosok ibu yang selalu setia membuatkan cemilan untuk menemani bapak menghabiskan waktu senjanya di bangku tua itu.

Mulai sekarang, sepi benar-benar menghantui diri. Menepiskan segala harapan untuk bisa membahagiakan kedua orang tua. Satu-satunya teman yang masih setia hanyalah bangku tua milik bapak. Ingin aku menjual rumah yang penuh kenangan. Membeli rumah baru yang ada di kota. Sehingga aku tidak perlu terlambat lagi ketika datang ke kantor. Tidak perlu lagi ikut mengantre jalanan yang macet karena padatnya kendaraan yang berlalu-lalang.

Arsip Cerpen di Indonesia