Bisa saja aku membeli rumah di sebelah kantor. Jadi tidak perlu membuang banyak uang untuk membeli bahan bakar setiap harinya. Uang itu bisa kutabung untuk masa tuaku nantinya. Akan tetapi, semua keinginan itu hanya sebatas keinginan. Banyak kenangan yang perneh kulewati bersama rumah peninggalan bapak. Bangku tua milik bapak seolah berkata kepadaku agar tidak menjual rumah penuh kenangan ini.
Rumah yang pernah menjadi tempat terhangat di kala hujan menyapa. Menjadi satu-satunya tempat yang menawarkan teduh kala panas mentari menyinari begitu teriknya hingga terasa membakar puncak kepala. Di rumah yang penuh kenangan inilah aku belajar dari bapak dan juga bangku tua miliknya. Belajar bagaimana cara menikmati senja dengan caranya sendiri.
Baca juga: Api Kenangan – Cerpen Latif Fianto (Padang Ekspres, 02 September 2018)
Menikmati senja dalam diam penuh penghayatan. Mengabadikan keindahan senja tanpa perlu mengabadikan lewat kamera keluaran terbaru, masa kini. Bapak telah mengajarkan cara mengabadikan keindahan senja yang lebih unik. Dengan caranya sendiri. Menikmati keindahan yang ditawarkan senja setiap harinya. Hanya dengan begitu ingatan kita pada senja tidak akan pernah terlupakan.
Ketika pada akhirnya aku pindah ke kota. Setiap sore aku tetap berkunjung ke rumah peninggalan bapak. Rumah yang belakangan sudah tidak terurus lagi karena memang tidak ada yang mengurusnya. Bahkan rumah itu tak lagi berpenghuni. Pernah aku menawarkan kepada penduduk sekitar yang masih tinggal bersama orang tuanya namun sudah memilik pasangan untuk menetap dan tinggal di rumah peninggalan bapak. Mereka malah menolak. Berdalih kalau rumah itu sangat berarti untukku. Beralasan kalau suatu saat aku pasti sangatlah membutuhkan kenangan yang pernah kulewati di rumah itu.
Baca juga: Togel – Cerpen Adam Yudhistira (Padang Ekspres, 19 Agustus 2018)
Ternyata mereka benar. Sampai sekarang aku masih sering berkunjung ke rumah peninggalan bapak. Rela menempuh jarak puluhan kilometer hanya demi bisa duduk di bangku tua milik bapak yang terbuat dari bambu itu. Bangku itu semakin lapuk termakan usia. Beberapa kali aku berusaha mengecat ulang bangku tua milik bapak. Tetap saja umurnya tidak bisa berkhianat.
Terkadang, saking lelahnya tubuhku. Aku ketiduran sampai subuh di bangku tua milik bapak. Bangku yang selalu mengantarkan ingatanku pada kenangan-kenangan di masa lalu. Kenangan yang begitu indah setidaknya pernah kulewati bersama bapak dan ibu di rumah itu. Hingga akhirnya bangku tua itu lapuk dimakan rayap. Aku tak pernah lagi mengunjungi rumah peninggalan bapak. Bagiku, semua kenangan telah musnah bersamaan dengan hancurnya bangku tua milik bapak.
Mekar Sari, Dharmasraya.