Ketika Kucingmu Pergi Sebentar

Akhirnya, bertanyalah Matondang kepada Rusli untuk kedua kalinya, meskipun Matondang tahu akan mendapat jawaban serupa yang pertama kali.

Dalam kegelisahan, Matondang mulai menaruh curiga. Mungkin Rusli menyimpan ketertarikan kepada Roro Kendul, kucing betina berbulu putih dan sedikit bulu keemasan yang halus di kakinya. Selain itu, sepasang mata Roro Kendul yang biru keunguan benderang dapat menarik minat orang yang melihat sehingga Matondang beranggapan Roro Kendul ialah kucing pembawa berkah karena dapat mendatangkan pembeli ke dalam tokonya. Roro Kendul juga rajin menghalau tikus-tikus yang setiap malam turun dari atas plafon, mengigiti pakaian-pakaian jualan Matondang.

Baca juga: Keris Lancip Putri Nglirip – Cerpen Daruz Armedian (Media Indonesia, 04 November 2018)

“Tapi, mana mungkin Rusli melakukannya?” ujar Matondang dalam hati, ragu.

Matondang tidak bisa menunggu lagi. Ia mulai mencari Roro Kendul di sekitar Pasar Raya, menelusuri blok-blok pasar yang tidak bisa dilihatnya dari teras tokonya. Hari itu Pasar Raya sedang ramai, sehingga Matondang terpaksa berdempetan ketika berjalan di lorong-lorong pasar yang hanya bisa dilewati oleh tiga orang. Di sela-sela pembeli yang datang ke setiap toko, di antara tawar menawar harga, Matondang melayangkan pandangan tajam seperti harimau yang mengintai mangsa.

Di toko-toko pakaian, Matondang menyingkap semua pakaian yang tergantung dan memasukkan kepala untuk mengintip adakah Roro Kendul bersembunyi di sana. Di kedai-kedai, Matondang masuk ke kolong meja dan keluar lagi di ujung kolong meja yang lain. Segala tempat yang memungkinkan untuk seekor kucing telah ditelusuri oleh Matondang, bahkan tempat-tempat sampah yang baunya menyengat sekalipun.

Baca juga: Kesetiaan Adalah Ketabahan Menunggu – Cerpen Erwin Setia (Media Indonesia, 28 Oktober 2018)

Setelah sekian lama mencari dan tidak menemukan apa pun, kepercayaan Matondang pada cerita Rusli mulai lenyap. Matondang semakin beranggapan Rusli iri karena keberadaan kucing itu membuat toko Matondang kian ramai dari hari ke hari.

Dari lantai dasar, Matondang menengadah tepat ke arah tokonya. Dengan cepat dan marah Matondang menaiki tangga, ingin segera melampiaskan kekesalannya kepada Rusli. Sungguh sulit memang apabila pikiran sudah tercemar prasangka yang buruk.

Arsip Cerpen di Indonesia