Toko Rusli dan Matondang bersebelahan tepat di tengah lantai empat Pasar Raya, di depan tangga yang membuat toko mereka menjadi toko pertama yang bisa dilihat pengunjung setiba di lantai itu. Rusli datang dari negeri di barat, sedangkan Matondang datang dari negeri di utara. Keduanya ialah penjual pakaian yang mendapatkan barang dagangan dari orang yang sama di pelabuhan Bandar Besar di daerah timur.
Baca juga: Musuh Bebuyutan – Cerpen Agus Salim (Media Indonesia, 14 Oktober 2018)
Karena punya banyak kesamaan, mereka sangat akrab sampai terlihat seperti abang dan adik. Tapi, semua itu mulai berubah ketika beberapa bulan yang lalu muncul kucing betina mungil di depan toko Rusli. Rusli yang mulanya tidak tertarik, mengusir pergi kucing itu. Namun, Matondang malah memungut dan memeliharanya.
Rusli tetap berkilah tidak tahu ketika untuk ketiga kalinya pada hari itu Matondang mendatangi tokonya. Jemari Matondang yang penuh urat mencengkeram kerah kemeja Rusli. “Kau bohong, Rusli!” hardik Matondang sambil mengangkat tubuh Rusli sampai kakinya tidak lagi menyentuh lantai. Ketika Matondang tidak kuat lagi menahan berat tubuh Rusli, Matondang membanting Rusli ke rak penuh pakaian di dalam tokonya.
Baca juga: Gadis Kecil Bernama Alenia – Cerpen Haryo Pamungkas (Media Indonesia, 07 Oktober 2018)
Rusli tidak terima. Ia bangkit sambil mengepalkan tangan, meloncat serta mengayunkannya ke wajah Matondang yang beberapa senti lebih tinggi darinya. Pukulan Rusli yang tepat mengenai rahang semakin membuat Matondang beringas. Matondang melayangkan pukulan ke segala arah. Tapi, Rusli lebih lincah. Tubuh kecilnya seperti pedang yang diayunkan dengan lihai.
Mereka bertengkar seperti sepasang kucing jantan yang berebut wilayah kekuasaan. Mereka baru berhenti ketika pedagang-pedagang lain beserta petugas keamanan membawa mereka ke kantor polisi.
***