Sapuan kemerahan mulai lenyap di balik cakrawala yang tampak dari lantai paling atas Pasar Raya. Keramaian di Pasar Raya telah berakhir. Semua toko telah tutup. Namun, lampu sepasang toko di lantai empat masih menyala. Tidak ada seorang pun yang terpikir mematikan sakelarnya.
Meskipun sudah tutup, listrik memang tetap mengalir ke Pasar Raya. Elekton-elektron terus bergetar di sepanjang kabel instalasi. Dari plafon ke plafon, beton ke beton, yang menuju lubang masing-masing di setiap toko. Kemudian menyisakan sunyi kecuali suara tikus-tikus penggigit kabel yang hidup di plafon.
Baca juga: Lelucon Eyang Masnawi – Cerpen Mufti Wibowo (Media Indonesia, 30 September 2018)
Lapisan kabel terakhir telah tergigit dan itu bukan sesuatu yang baik bagi siapa pun, bahkan bagi jutaan butir elektron yang keluar dari jalurnya. Tapi, bagaimanapun, listrik tetap mengalir seperti biasanya, ada atau tanpa penampangnya.
Benturan selalu terjadi, bahkan di tempat yang paling kecil dan tak terduga. Mulanya percik kecil api yang kemudian membesar menelan plafon dan bagian bangunan yang terbuat dari kayu. Api pun kian liar membakar hingga keluasan malam di atas Pasar Raya, di sebuah kota tanpa nama.
Baca juga: Laki-Laki yang Menyeret Sebuah Pintu – Cerpen Yudhi Herwibowo (Media Indonesia, 23 September 2018)
Keesokannya, di antara bau hangus, abu dan puing kayu yang memenuhi setiap blok, toko dan tangga, Roro Kendul melenggang sendirian. Tanpa menoleh keadaan sekitar, Roro Kendul berjalan lega selayaknya orang yang keluar dari kamar mandi setelah buang air besar. Roro Kendul menaiki anak tangga perlahan-lahan hingga ke lantai keempat. Ia berhenti di depan salah satu toko dan merebahkan badannya.
Di balik puing-puing bangunan, seekor tikus sepenuh dendam menatap Roro Kendul. Namun, Roro Kendul tidak tahu. Ia segera tertidur pulas, bermimpi bersenggama dengan kucing jantan yang kemarin ditemuinya. (M-2)
Jakarta, 2018
Alpha Hambally, lahir di Medan, Desember 1990. Tulisannya berupa cerita pendek, puisi, maupun esai pernah dimuat di berbagai media. Puisinya pernah dibukukan dalam kumpulan puisi Riau Pos, yaitu Bendera Putih untuk Tuhan (2014) dan Pelabuhan Merah (2015). Cerpennya dibukukan dalam Cerpen Terbaik Tempo, Setan Becak, Ayoveva, hingga Chicago May (2017). Ia sekarang bekerja lepas sebagai penulis dan editor di Jakarta.