Hujan Terakhir

Walaupun masa kecilnya hampir saban saat bermain di air, dan sangat akrab dengan ikan, ia tetap tak mau kalau anaknya bermain air. Sungguh tak mau menyaksikan anaknya bermain di tepi parit. Ia amat takut kalau anaknya ditelan air parit. Padahal kalau dibandingkan dengan kedalaman sungai di kampungnya yang mencapi 30 depa, tentulah kedalaman parit di sekitar perumahannya tak sebanding dengan itu. Tapi itulah, ia tetap tak mau melihat anaknya main di parit.

***

Lelaki itu sekali ini benar-benar kesal pada hujan dan air yang turun. Ia amat khawatir kalau hujan ini akan menyebabkan parit meluap besar. Jika itu terjadi, lelaki yang sehari-hari bekerja menjajakan buah-buahan di sekeliling kota itu tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada anaknya, karena kira-kira tiga bulan lalu, di kampung sebelah seorang anak hanyut lalu meninggal karena tergelincir ketika menyeberangi parit.

Anak itu ditemukan tiga hari kemudian setelah tubuhnya membengkak, diisap belatung dan dikerubungi langau hijau. Mendengar kabar dari kampung sebelah itu, luka lamanya berdarah kembali. Ia tak dapat membayangkan betapa lumat dan hancurnya hati ayah anak tersebut. Akh, bukan kah kehilangan seorang anak merupakan kemalangan terbesar dan keperihan terdalam bagi seorang ayah? Setidaknya menurut ia yang telah merasakannya.

Tak henti-hentinya ia berdoa dalam hati, “Selamatkanlah anak hamba ya Allah,” katanya gelisah. “Oh hujan, berhentilah. Berhentilah,” katanya mengiba.

Hujan belum juga berhenti. Hujan sekali ini bukan hujan biasa. Ini badai tengah hari. Petir dan kilat sambung-bersambung di langit. Hari mulai agak gelap.

Dipandangnya foto anaknya sekali lagi. Wow, manis nian senyum anak lelaki bungsunya ketika memegang ekor ikan belida saat mereka memancing di tepian rumah emaknya di kampung beberapa waktu lalu. Sungguh tak sabar ia ingin bertemu, memeluk, dan mencium anaknya itu. Tapi hujan ini? Petir ini? Kilat ini?

Dalam hati, tak henti-hentinya lelaki itu berdoa agar langit menghentikan air matanya. Tapi langit benar-benar tak mendengar kata hatinya, semakin lama semakin deras saja hujan yang turun. Begitu pula kilat dan petir. Kian lama kian menjadi-jadi saja.

Ia yang sejak tadi menumpang di warung kopi semakin tidak sabar. Senyum anaknya semakin manis di pelupuk matanya. Ia sudah tak sabar mau pulang.

Arsip Cerpen di Indonesia