Hujan Terakhir

Ah, kalau hanya pulang dalam hujan tak begitu dipusingkannya. Tak begitu dirisaukannya. Jika nanti flu, pilek, atau demam menyerang, cukup dengan sebutir para cetamol, insya Allah selesai. Tapi foto ini? Bagaimana nasib foto yang baru dibingkai ini? Sekuat-kuatnya bingkai dan plastik pembungkus tetap tak akan mampu menghadapi badai ini. Tak akan mampu bertahan dari hujan lebat ini.

Lelaki itu kembali memandang jalanan di balik sehelai papan berlobang yang menutupi pintu kedai. Hujan kian menggila. Petir berdentum-dentum.

“Ada kantong plastik, Buk?” tanyanya pada perempuan pelayan kedai.

“Apa, Pak?” tanya pemilik kedai mendekatkan telinganya kepada lelaki itu.

“Ada plastik, Buk?”

“Buat apa, Pak?”

“Untuk pembungkus ini.”

“Hoo. Kalau itu tak ada. Sangat besar itu, Pak. Kami hanya punya yang ini.”

Lelaki itu kembali menarik napas dalam. Ditiliknya kembali senyum anak bungsunya di foto. Hatinya semakin berdebar tak menentu.

“Baiklah, Buk. Cukup menutup sebagian foto ini jadilah,” katanya sambil meraih kantong plastik merah yang dijulurkan pemilik warung.

Hujan semakin deras. Petir semakin kuat. Senyum anaknya semakin manis di pelupuk matanya. Ia betul-betul sudah tak sabar segera pulang. Percikan hujan yang menikam bumi sudah bagai percikan bunga api saat menimpa air yang tergenang. Dulu, saat masih kecil, ia berlama-lama melihat percikan itu. Itu bagian pemandangan alam yang sangat menyenangkan hati. Tapi kini, semua itu tak dinikmatinya. Semua itu malah membuatnya resah.

Ia ingin segera pulang membawa foto dan obat demam buat anaknya. Tapi hujan siang ini seperti murka dengan kemarahan lelaki itu hingga ia pun marah dan kesal, dan menumpahkan kemarahannya tak sudah-sudah. Butiran hujan sudah seperti butiran biji jagung.

Kesabaran lelaki itu berakhir. Dimasukkannya foto ke dalam kotak buah di belakang sepedanya. Seusai minum dibayar, tanpa memandang kepada perempuan pemilik kedai dan orang-orang duduk merokok, minum dan menikmati hidangan di kedai itu, ia pun membuka pintu warung dan tergesa-gesa melangkah menuju sepedanya. Perempuan penjaga kedai kopi ingin melarangnya, ingin menegahnya keluar. Tapi belum sempat berucap apa-apa, sepeda ontel berkotak kaca di belakangnya itu sudah menderu menembus badai, menerjang hujan ribut. Dikayuhnya sepeda sekuat-kuatnya. Ia heran, kini setang sepeda seolah berubah jadi setir perahu motor. Ia melaju kencang membelah air.

Arsip Cerpen di Indonesia