Lelaki itu sudah lupa pada foto anaknya. Ia hanya ingat mandi hujan. Ia kini merasa saat kecil dahulu. Main bola di depan masjid bersama kawan-kawannya. Tertawa menyambut suara petir yang menggelegar. Lalu berselancar sambil mengepakkan tangan dan telentang memandang garis-garis kilat yang tampak putus-putus di langit.
Air parit sudah meluap dahsyat. Jalan raya sudah bagaikan sungai yang banjir. Bus-bus pun sudah seperti kapal feri, mobilmobil laksana speedboat, sepeda motor umpama pompong. Lelaki itu terus mengayuh sepedanya berpacu dengan kendaraan bermotor lainnya. Ia benar-benar telah sasau, telah seperti separuh gila mengayuh sepedanya seperti orang kesurupan.
Tak lama kemudian tiba-tiba lelaki itu tersentak. Tak ada orang di jalan. Ia hanya sendiri. Ia heran mengapa sepedanya dapat berjalan di atas air. Ia heran kenapa sepedanya jadi sampan jongkong yang dikayuhnya saat ia di kampung dahulu. Yang amat diherankannya lagi, ia kini sudah sampai ke depan rumah emaknya di kampung. Ayah dan ibunya sedang duduk di bendul pintu, mereka memandangnya dengan tatapan penuh kerinduan, seperti sudah lama menunggu kedatangannya.
Ia semakin heran, bukankah ayah dan emaknya sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu? Apa yang terjadi? Pikirnya.
***
Istri, anak kedua, dan anak bungsu lelaki penjual buah itu sedang menggigil dalam demam tinggi. Mereka sudah menunggu sejak tadi. Rumah mereka telah digenangi air setinggi lutut. Listrik padam. Petir dan kilat terus sambung-bersambung di langit. Mereka bertiga duduk berselimut di atas ranjang menunggu kedatangan lelaki itu.
Sampai malam, lelaki yang mereka tunggu tak kunjung tiba. Dan mungkin tak akan per nah datang, selamanya, karena itu merupakan hujan terakhir dalam hidup lelaki itu, yang telah menyusul kedua orang tua dan anak sulungnya di alam baka karena hanyut dihempas banjir sejak tengah hari tadi. â–
Pekanbaru, 2018
Griven H Putera merupakan sastrawan Riau. Cerpennya dimuat di beberapa media seperti harian Republika, Riau Pos, Batam Pos, majalah Annida, majalah Sagang, dan majalah sastra Berdaulat.