Bulan Menangis di Atas Nisan

Jantung Maimunah hampir lepas dari tangkai ketika dengan mata kepalanya melihat tubuh suaminya dipenuhi darah. Ia memekik. Berteriak. Sesekali memaki, sambil lalu bertanya siapa melakukan semua itu. Tidak ada jawaban. Orang-orang bungkam.

Anak buah Pak Lurah berbisik-bisik ke telinga Maimunah. Ia juga menepuk-nepuk pundah Maimunah menandakan tanda bela sungkawa. Lima belas menit berlalu. Maimunah meminta orang-orang menggotong mayat suaminya ke rumah. Perempuan itu menolak autopsi. Maimunah menerimanya sebagai suratan nasib.

Pak Lurah memandang dari balik pohon jagung. Tak ikut mengurus kematian suami Maimunah. Ia mengangguk-angguk dengan bibir tersenyum. Ia sudah mengutus anak buahnya seraya menitip pesan tak bisa mengurus karena ada urusan penting di kelurahan. Pak Lurah pulang.

Sesungguhnya tidak butuh penyelidik untuk membuktikan siapa pembunuh suami Maimunah. Perempuan itu sudah memastikan siapa saja yang terlibat pembantaian terhadap suaminya. Ia sengaja membiarkan dalang kematian suaminya karena menganggap sia-sia melawan orang itu. Tak mungkin menang. “Apalah daya orang miskin seperti saya ini,” rutuk Maimunah.

Baca juga: Sepasang Kekasih di Atas Loteng – Cerpen A Warits Rovi (Suara Merdeka, 18 November 2018)

Gerimis tipis jatuh satu demi satu dari langit yang ditutupi iring-iringan awan di atas pemakaman. Jasad suami Maimunah dimasukkan ke liang lahat. Tumpah air matanya. Anak gadis Mainumah, Bulan, berumur sepuluh tahun saat itu. Ia memeluk ibunya. Gadis itu menangis.

Sejak tadi Maimunah tidak melihat Pak Lurah. Genap sudah dugaan di dada Maimunah. Orang-orang meninggalkan pemakaman. Tinggal Maimunah dan anak gadisnya. Keduanya bersimpuh di dekat pusara lelaki yang selama ini jadi tulang punggung keluarga. Maimunah memegang ujung nisan suaminya dengan tangan bergetar hebat.

Seminggu sebelum meninggal, suami Maimunah kerap didatangi tiga orang suruhan Pak Lurah serta dua orang asing, berkepala pelontos, berkacamata hitam. Hampir setiap hari mereka bertamu ke gubuk di bawah kaki Bukit Garincang itu. Maimunah mendengar sayup-sayup pembicaraan mereka. Pembicaraan itu bermuara pada keinginan mereka agar suami Maimunah menjual lima petak sawahnya.

Arsip Cerpen di Indonesia