Bulan Menangis di Atas Nisan

Entah karena terlalu memikirkan kematian suaminya yang dibantai secara keji dan mengerikan, Maimunah pun sakit-sakitan. Mungkin Maimunah juga memikirkan sawahnya itu. Orang-orang itu tetap mengincar tanah itu. Selalu setiap hari mereka datang membujuk Maimunah. Jawaban Maimunah selalu sama, tak akan pernah menjual tanah itu.

Ketika Bulan, anak gadisnya, menginjak usia delapan belas tahun, Izrail menjemput Maimunah. Perempuan tua itu dikubur di dekat makam suaminya. Bulan sebatang kara. Pembeli tanah memanfaatkan kesempatan itu. Mereka sangat berhasrat memiliki tanah itu. Mereka menemui Bulan, selalu mengatakan akan menanggung hidup dan pendidikan gadis itu jika mau melepas tanahnya.

Baca juga: Lelaki Itu Memilih Pintu Berbeda – Cerpen Ismul Farikhah (Suara Merdeka, 28 Oktober 2018)

Sekalipun terbilang gadis bau kencur, cara berpikir Bulan terbilang matang. Ia menolak tawaran itu. Tak akan menjual tanah itu apa pun yang terjadi dan sampai kapan pun. Bulan mendengar desas-desus yang hangat dibicarakan warga kampung tentang kematian ayahnya yang tak lain karena mempertahankan tanah sangkol. Karena itulah, Bulan akan bersikap sebagaimana sang ayah.

Karena tinggal seorang diri, Bulan lebih banyak menghabiskan waktu di pemakaman. Bulan berada di antara makam sang ayah dan ibunya. Sebelah kanan makam ayahnya, sebelah kiri makam ibunya. Tangan kanannya meremas-remas tanah makam sang ayah, sedangkan tangan kiri menggenggam tanah makam sang ibu.

Bulan menangis di antara dua nisan itu. Tak pernah reda tangisnya. Tangisnya menyayat. Tangis seorang gadis yang teraniaya. Secara bergantian ia selalu mengecup ujung nisan kedua orang tuanya. Bunga-bunga tertabur di atas pusara mereka. Tampak tiga orang lelaki berdiri di belakangnya. Berdehem-dehem mereka. Bulan membalikkan badan.

Baca juga: Maria dan Mario – Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 14 Oktober 2018)

Gadis itu membiarkan air mata meleleh melalui pipi tirusnya. Mereka bersimpuh. Tiga orang mendongakkan wajah ke langit dan mengangkat tangan. Bibir mereka komat-kamit. Tak lama kemudian mereka menepuk pundak Bulan, mengucap agar Bulan tegar menghadapi hidup.

“Bulan, apa kamu masih ngotot tak mau jual tanahmu? Selain harga tinggi yang kami tawarkan, kami juga akan bangunkan rumah bagus buat kamu. Kami juga sanggup menanggung biaya hidup kamu. Bahkan Pak Lurah siap menyekolahkanmu sampai pendidikan tertinggi yang kamu mau. Bagaimana?”

Arsip Cerpen di Indonesia