Bulan Menangis di Atas Nisan

Baca juga: Suara Azan Simbah – Cerpen Abu Rifai (Suara Merdeka, 07 Oktober 2018)

“Tidak akan. Sudah saya katakan tak akan pernah menjual tanah itu. Saya siap mati di tangan kalian sebagaimana ayah saya yang tewas di tangan kalian.”

Mereka tergagap. Mereka menelan ludah.

“Kamu lahir dan besar di kampung ini. Kenapa kamu justru jadi kaki tangan investor asing? Mestinya kamu jadi pelindung bagi tanah-tanah yang akan dijarah investor busuk itu. Apa perlu saya ajarkan betapa penting menjaga tanah? Sampaikan salam saya juga pada Pak Lurah!” Bulan berkata lantang di depan wajah lelaki itu. Ia tidak dapat berkata apa-apa, kecuali menahan sesak di dada. Bulan kembali bersimpuh di antara dua pusara orang tuanya. Ia pandangi dua nisan itu sambil lalu terus menguras air mata. (28)

 

Pulau Garam, Januari 2018

 

Catatan

[1] Sangkol: warisan.

[2] Ajege tanah ajege nak poto: menjaga tanah menjaga anak-cucu.

 

Zainul Muttaqinl Lahir di Garincang, Batang-batang Laok, Batang-Batang, Sumenep, Madura, 18 November 1991. Cerpen alumnus Studi Tadris Bahasa Inggris STAIN Pamekasan itu dimuat pelbagai media.

Arsip Cerpen di Indonesia