Bulan Menangis di Atas Nisan

Darkum, suami Maimumah, santun menyampaikan tak akan pernah menjual sawah itu. Tanah sangkol [1] tidak boleh dijual. Jika tetap ngotot menjual, terlebih lagi sawah itu akan disulap jadi tambak udang, Darkum sangat yakin akan dikutuk leluhur. Lagipula, kata Darkum, ajege tanah ajege nak poto [2].

Wajah mereka dipenuhi percikan api. Mereka saling pandang. Darkum menghela napas. Maimunah keluar membawa kopi. Mereka memaksakan sesungging senyum mekar dari bibir. Maimunah balas tersenyum. Darkum menyilakan mereka meminum kopi lezat buatan istrinya.

“Darkum, kau jangan terlalu percaya takhayyul. Mana ada kutuk leluhur.” Lelaki berjenggot tipis, orang suruhan Pak Lurah, memandang ke wajah Darkum. Lelaki itu meneguk kopinya.

Baca juga: Gadis Itu Tak Suka Hari Minggu – Cerpen Umi Rahayu (Suara Merdeka, 11 November 2018)

“Hanya kamu satu-satunya orang yang belum mau melepas tanah di kampung ini. Semua sudah kami beli. Mereka tak takut kutuk leluhur. Lagipula kami bayar dengan harga sangat tinggi,” timpal anak buah Pak Lurah.

“Saya tidak tergiur uang. Saya lebih memikirkan anak-cucu di kemudian hari. Uang bisa habis sekejap, tapi tanah tak akan pernah habis sampai tujuh turunan sekalipun, bahkan lebih.” Darkum tegas bicara.

Mereka pamit pulang. Gusar mereka melangkah. Tak sedikit pun memandang Darkum. Sejak itu Darkum kerap diancam orang misterius. Tengah malam rumah Darkum dilempari batu. Tidak hanya itu. Seseorang berpesan agar Darkum lebih waspada sebab nyawa lelaki itu dalam bahaya. Darkum tenang-tenang saja. Tak terlihat ketakutan melingkar di wajah Darkum.

Baca juga: Negeri Asap – Cerpen Angga T Sanjaya (Suara Merdeka, 04 November 2018)

Bagi Darkum, tak seorang pun bisa mengubah kematian seseorang. Kematian tak bisa dimajukan, pun tak bisa dimundurkan. Kalaupun harus mati karena mempertahankan tanahnya, tidak jadi soal bagi dia. Darkum sama sekali tidak gentar menghadapi teror itu. Bahkan ia pernah menantang agar mereka menghadapinya secara jantan, tidak bermain pengecut.

“Apa tidak sebaiknya kita jual saja sawah itu?” tanya Maimunah. Ia khawatir orang-orang itu benar akan menghabisi Darkum.

“Lebih baik mati ketimbang menjual tanah. Tanah itu warisan turun-temurun. Tanah sangkol tak boleh dijual, ingat itu!”

***

Arsip Cerpen di Indonesia