Sesampainya di kamar Ayu, aku sungguh terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapanku. Ya, Tuhan! Hampir aku tak percaya dengan penglihatanku. Perlahan-lahan, sesosok makhluk berbusana penari gandrung lengkap dengan omproknya keluar dari tubuh Ayu. Rambutnya yang panjang berhias bunga beraneka warna yang menebar aroma mistik. Aku hanya bisa tertegun melihat pemandangan itu. Roh itu benar-benar berwujud fisik seorang perempuan di hadapanku. Ya, dia adalah Nyi Semi, arwah sang penari gandrung yang selalu diceritakan Ni Luh Padmi kepadaku.
Nyi Semi mendekat ke arahku. Tangannya terus menggerak-gerakkan kipas sambil meliuk-liukkan tubuh dan kepalanya mengikuti irama alunan gendang. Rasa penasaran dan takut berkecamuk dalam diriku. Aroma pandan dan bunga kenanga begitu semerbak. Berbaur dengan asap dupa yang memenuhi ruangan. Seakan-akan aku terhipnotis mengikuti Nyi Semi untuk bergerak dan menari. Sementara dalam batas kesadaran yang lain aku melihat Ayu Laksmi tertidur pulas.
Semakin lama, gerakan menari Nyi Semi semakin cepat. Aku diayun dengan selendangnya. Tubuhku terasa ringan seperti kapas melayang. Di balik kibasan selendangnya, ku lihat bibir Nyi Semi menyungging senyum.
“Nyi Semi, bolehkah saya bertanya?” kataku mencoba berkomunikasi dalam bahasa batin.
“Anak boleh bertanya. Mau tanya apa kau?” Suara perempuan itu parau. Mata Nyi Semi berubah merah. Ia menatapku dengan pandangan yang tajam.
“Mengapa Nyi memakai raga Ayu untuk kembali?”
“Aku menginginkan Ayu menjadi seblang. Ia akan sembuh dan berumur panjang sepertiku.”
“Mengapa harus Ayu, Nyi? Kami hidup dalam alam yang berbeda denganmu.”
“Memang, tapi aku sangat menginginkan dia.”
“Apa Nyi Semi tidak kasihan dengan Ayu? Anak sekecil itu harus menderita karena keinginanmu, Nyi?”
“Sudahlah, Nak. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Waktuku tidak banyak. Izinkan aku akan membawa Ayu sekarang juga sebelum masa akil baliknya tiba.”