Arwah Titisan

Tiba-tiba Nyi Semi menyanyikan tembang Lukinto, sebuah lagu ratapan kesedihan. Dari berbagai arah berlawanan, lima sosok cantik penari seblang datang. Mereka mengelilingiku. Aku takut. Aku mencoba berpikir, apakah ini nyata? Ataukah ini sebuah halusinasi saja? Kucubit tanganku, terasa sakit. Ini nyata. Aku tidak berhalusinasi. Mereka terus menari meliukkan tubuhnya dan menyanyi tembang seblang Lukinto dengan raut wajah penuh duka. Entah mengapa, hatiku seperti ikut tersayat dan pilu mendengarnya.

“Hentikan Nyi Semi! Apa maksudmu dengan semua ini!” Teriakku parau. Segenap kesadaranku bangkit.

“Hai, Anak. Rupanya hanya kamu yang mampu melihat dan merasakan kehadiranku. Dengar, aku akan pergi dari tubuh Ayu, tapi dengan satu syarat.” jawabnya dengan suara melengking tinggi.

“Katakan, apa maumu Nyi Semi? Asalkan kamu lepaskan Ayu dari pengaruh kekuatanmu.”

“Seperti yang diucapkan oleh ibuku, Mak Midhah dengan nazarnya, maka kamu harus mengucapkan ini untuk Ayu Laksmi. Kadhung sira waras, sun dadekaken seblang, kadhung sing yo sing,” ujar Nyi Semi sambil terus mengipasi tubuh Ayu.

“Mengapa Nyi Semi menginginkan Ayu untuk menjadi seblang?”

“Karena warisan budaya leluhurku sudah tergeser dengan musik dan tradisi asing. Sementara budaya seblang semakin tersingkir dan terlupakan. Jangan salahkan aku jika harus kembali ke alam kalian.” Suara Nyi Semi terdengar menggelegar.

Aku mundur beberapa langkah. Tubuhku terasa panas. Peluh bercucuran. Nyi Semi terus menerus mengipasi tubuh Ayu. Kulihat para penari seblang mengitari tubuh Ayu. Dari dalam kabut asap dupa, kusaksikan roh Ayu keluar dari tubuhnya.

“Tidaaaak!!! Jangan bawa Ayu. Dia milik kami Nyi Semi! Jangan sakiti dia!” Aku berteriak marah.

Arsip Cerpen di Indonesia