Arwah Titisan

Nyi Semi tidak peduli. Ia terus membubung bersama roh Ayu diiringi kelima penari seblang itu. Aku berusaha untuk terus mencegah Nyi Semi. Kurasakan rohku melesat terbang menyambar Ayu. Tubuh kasarku terguncang dan terempas ke lantai terkena sabetan selendang merah Nyi Semi. Tulang punggungku seperti remuk rasanya. Akhirnya, aku berhasil merebut Ayu dari mereka. Suhu tubuhku menjadi sangat panas. Hidungku mengeluarkan darah segar. Aku berteriak sekencang-kencangnya mengusir Nyi Semi…

Tiba-tiba aku merasa ada yang menepuk pipiku. Ternyata Ni Luh menepuk-nepuk pipiku.

“Sekar! Sekar! Kamu bermimpi?” Ni Luh menatapku dengan wajah khawatir. Tangannya mengusap peluh yang membasahi tubuhku.

Mimpikah aku? Tapi aku benar-benar merasakannya. Sumpah aku tidak bermimpi. Arwah Nyi Semi memang datang tadi. Dan itu terasa sangat nyata sekali. Aku bingung melihat sekeliling kamar. Kulihat Ayu masih terbaring lemah, belum siuman. Aku berpikir, haruskah kukatakan pada orang tua Ayu tentang permintaan Nyi Semi? Apakah aku salah jika tidak mengatakannya. Apakah mereka percaya jika harus kukatakan. Aku sungguh bimbang. (*)

 

Destya Tika Ananta, siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Glagah.

Arsip Cerpen di Indonesia