Dia menyelenggarakan arisan di rumahnya, di tengah kota di kawasan pecinan. Sebelum arisan berlangsung, kami saling melepas kerinduan. Maklum, kami tinggal di kota-kota berbeda.
Tiba-tiba telepon di sakuku bergetar. Kurogoh telepon dan terpampang nama Ilham. Lelaki itu kukenal di dunia maya baru sebulan ini. Aku tak pernah tahu tampangnya.
Awalnya aku enggan membalas pesan dia. Aku tak suka bersinggungan dengan orang yang belum pernah kujumpai. Namun suatu ketika aku mendengar dia menyanyikan sebuah lagi dalam unggahannya. Cuma satu menit. Suara berat itu sungguh merayuku, membiusku.
Baca juga: Sepasang Kekasih di Atas Loteng – Cerpen A Warits Rovi (Suara Merdeka, 18 November 2018)
“Lana, kau jadi arisan hari ini?” ujar dia menyadarkan aku.
“Jadi dong. Ini udah di tempat arisan, Ham.”
“Baiklah, aku tunggu sampai urusanmu selesai.”
“Sampai jumpa, Ham.”
Telepon mati. Mery sudah berada di sampingku sambil cengar-cengir. “Ihir! Udah ada gebetan nih sekarang,” katanya menggoda.
“Baru kenal. Belum lihat wajahnya,” sahutku santai.
“Lo? Terus?” Dia terkejut.
“Iya, cuma dengar suaranya. Ngerti kan, aku gampang terbius oleh suara merdu. Ha-ha-ha.” Aku tertawa puas.
Baca juga: Gadis Itu Tak Suka Hari Minggu – Cerpen Umi Rahayu (Suara Merdeka, 11 November 2018)
“Ya udah deh. Semoga oke. Yuk, masuk. Temen-temen udah nunggu di dalam.”
Aku dan Mery masuk ke ruang tengah. Setelah saling bergurau, acara pun kami mulai.
Bulan ini, aku tak begitu berharap memenangi arisan. Namun ternyata ketika dikocok, namaku yang keluar. Semua bertepuk tangan, bersorak. Aku seperti juara sebuah kompetisi.
“Asyik, Lana yang dapet. Tercantik dari yang cantik-cantik. Hadiah undian kita bulan ini keren lo, Lan. Artis terkenal. Macho. Nanti kalau udah ngewe, ih nggak kebayang,” goda Devina, diikuti gelak tawa kawan-kawan.
Semua menatapku dengan tampang menggoda. Aku cuma tersenyum malu-malu. “Sial! Aku belum siap,” batinku.
***