Tiba di Bali, aku dijemput taksi online, ke hotel tak jauh dari bandara. Ah, kamar yang cantik. Aku bisa melihat pantai, bahkan sambil berenang di kolam belakang kamar. Namun lantaran lelah, aku memutuskan beristirahat dulu sebelum bertemu lelaki hasil undian arisan.
Pukul 17.00, aku ke restoran di tepi pantai. Aku menunggu lelaki itu sambil menikmati saat matahari tenggelam. Tiba di meja yang sudah terpesan, lelaki itu belum datang. Kunikmati suasana, sesekali memotret dan mengunggah gambar ke Instagram.
Telepon masuk. Ilham. “Lana, kamu di mana? Kamu nggak kasih kabar seharian ini,” suaranya memperdengarkan kekhawatiran.
“Maaf, Ham, aku lagi di Bali. Baru saja sampai.”
“Lo, ngapain?” Suaranya mengencang.
Baca juga: Negeri Asap – Cerpen Angga T Sanjaya (Suara Merdeka, 04 November 2018)
“Cuma jalan-jalan. Lagi penat sama suasana Ibu Kota. Maaf, nggak kasih kabar.”
“Di hotel apa? Kirim alamat. Nanti aku samperin setelah urusanku selesai.”
“Serius? Kamu di Bali?”
“Iya. Udah dulu ya, nanti kita sambung lagi. Jangan lupa kirim alamat dan nama hotelmu.”
Tiiit! Telepon mati.
Tiba-tiba ada seorang lelaki menghampiriku. Lelaki yang tak asing dalam penglihatanku. Azriel, idola para gadis saat ini. Penyanyi band yang sedang naik daun.
Aku bingung. Diakah lelaki yang Devina pesan? Atau, salah orang?
Lelaki itu melambaikan tangan di hadapanku, sehingga membuatku tersadar. “Lana?” sapa dia sambil tersenyum manis.
Baca juga: Lelaki Itu Memilih Pintu Berbeda – Cerpen Ismul Farikhah (Suara Merdeka, 28 Oktober 2018)
“Iya, aku Lana.”
“Oh, berarti bener. Boleh aku duduk? Sudah tahu siapa aku kan?”
“Boleh. Iya, aku tahu. Kau kenal Devina?”
“Iya. Devina yang memintaku ke sini. Ternyata benar, Devina nggak bohong. Kau cantik,” ujar dia sembari menelisik mataku.
Aku tersenyum. Malu.
“Kita nikmati matahari terbenam dulu ya, lalu kita kembali ke hotel. Sore ini cantik, seperti perempuan di depanku,” katanya sambil melempar pandang ke pantai.
***