Tiba di hotel, aku dan Azriel melanjutkan perbincangan. Saat dia ke kamar mandi, aku mengirim pesan pada Ilham; alamat hotel tanpa nomor kamar. Aku tak mau Ilham tahu aku sedang bersama seorang lelaki.
Azriel cukup lama di kamar mandi. Karena pesanku tak segera tersambut, aku menelepon Ilham. Namun dia tak mengangkat. Saat bersamaan telepon Azriel di meja berdering. Aku melihat layar teleponnya. Muncul nama Geulis.
Aku kembali menelepon Ilham. Lagi-lagi telepon Azriel berdering. Dia keluar dari kamar mandi, mengambil telepon, menjauh beberapa langkah dariku, dan menerima panggilan.
Suara berat yang acap kudengar di telepon itu begitu nyata. Aku dan Azriel saling pandang beberapa saat. Saling tatap, saling menelisik. Akhirnya dia mendekat, lalu memelukku. Erat.
Baca juga: Maria dan Mario – Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 14 Oktober 2018)
“Lana?”
Wajahnya memancarkan rona kegembiraan.
“Ilham?”
“Mengapa aku tak mengenalimu sejak awal? Pantas saat kau bicara, aku merasa tak asing dengan suaramu.”
“Aku juga tak menyangka bakal bisa sedekat ini denganmu yang lagi naik daun. Aku…”
“Sudahlah, kita nikmati saja malam ini.”
Dia kembali memelukku. Tiba-tiba dia mendorongku ke dinding dan menciumku. Ia bukan pemain biasa. Andal.
Baca juga: Suara Azan Simbah – Cerpen Abu Rifai (Suara Merdeka, 07 Oktober 2018)
Dia hendak melepas semua yang kukenakan. Kulihat dia sangat bergairah. Namun aku mencegah. Dia bingung, menatapku, mengisyaratkan permohonan agar aku menanggalkan pakaian. Aku membalas dengan senyuman. Dia terlihat gemas, lalu bersegera membopongku ke ranjang.
Aku benar-benar tak berdaya. Aku memang menginginkan. Namun aku takut dia tahu siapa aku sebenarnya. Sungguh, aku takut.
Namun rasa takut itu kalah oleh berahi. Wajahnya memelas. Aku makin iba dan gemas. Aku menyerah.
Cepat-cepat dia melolosi pakaianku, dari atas ke bawah. Awalnya dia amat menikmati percumbuan. Namun mendadak dia mendorongku keras-keras.