Ziarah

Ayahnya membangga-banggakan Hendi. Ibunya juga begitu.

“Sebagai seorang koki kapal pesiar, pada waktunya ia pun butuh pula untuk menikah,” ucap ayah Hendi di sela-sela perbincangan.

Sontakaku terkejut, seolah-olah ada petasan meledak di dekatku. Begitu pula ibu yang duduk di sampingku membelalakkan mata. Aku kerap bercerita pada ibu bahwa Hendi cukup mapan dan penghasilannya takkan membuatku menderita, malah bisa-bisa menikah dengannya membuatku jadi perempuan paling bahagia di Kampung Sepu—jika saja kebahagiaan diukur dengan jumlah penghasilan suami.

“Memang apa pekerjaannya?”

“Distributor kain, Bu. Ia menjadi pemasok kain untuk berbagai daerah di Sumatra dan Jawa.”

Maka, ketika ayah Hendi menyebut-nyebut soal koki kapal pesiar berikut aktivitas apa saja berkaitan itu dalam rangka menceritakan Hendi, tak pelak ibu terheran-heran. Ibu memandangku berkali-kali sepenuh cemas. Wajahnya menggambarkan betapa ia sangat kecewa menerima kabar itu. Aku yang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam sekaligus menyayangkan kenapa Hendi tak jujur padaku sejak awal.

Kulihat Hendi pun menundukkan kepala terus-menerus. Saat waktu makan tiba, ia mengajakku bicara berdua. Hendi berucap ia punya alasan kuat kenapa tak mengatakan yang sebenarnya mengenai pekerjaannya. Lalu, dia minta maaf.

“Aku takut kau tidak akan menerimaku jika aku berkata yang sebenarnya sejak awal. Aku pernah mencoba menjalin hubungan beberapa kali dengan wanita dan mereka selalu perlahan berubah dan menjauhiku begitu tahu aku koki kapal pesiar. Alasannya, tentu saja, karena mereka tak ingin punya suami yang jarang di rumah.”

Aku pun begitu. Tetapi tidak kali ini. Aku tak keberatan ia pergi melintasi lautan berbulan-bulan. Asal ia tetap mencintaiku, tidak berlaku serong seperti umumnya para pekerja di kapal pesiar, dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keluarga. Yang membuat pekerjaannya menjadi masalah buat kelangsungan hubungan kami adalah ingatan ibu.

Arsip Cerpen di Indonesia