Namun, kapal kami sudah telanjur jauh menyusuri waktu, tidak mungkin untuk ditarik mundur secara tiba-tiba. Bisa-bisa kapal ini akan karam dan memakan banyak korban.
Akhirnya, kami tetap menikah tiga bulan setelahnya. Tanpa restu ibu.
***
SEJAK menikah, aku tinggal bersama Hendi di Metro. Dekat dengan sanak kerabat Hendi. Rumah mertuaku bahkan dapat ditempuh sepuluh menit berjalan kaki dari rumah. Sebelumnya jangan salah sangka. Ibu memang mengatakan tidak merestui pernikahanku. Namun, pada hari pernikahanku yang diselenggarakan di Kampung Sepu, ibu tampak gembira dan menyambut baik tamu-tamu. Ibu juga mengizinkanku bermukim di Metro ketika Hendi memohon untuk membawaku ke tanah kelahirannya itu.
“Berbahagialah kau di sana bersama suami dan anak-anakmu kelak. Tak usah terlalu mengkhawatirkan ibu. Di Kampung Sepu ini ibu tidak akan kesepian. Masih ada bibi-bibimu beserta anak-anaknya yang pasti meramaikan rumah.”
Mulanya aku ragu jauh dari ibu. Aku juga tak menduga ibu mudah saja membiarkanku tinggal jauh darinya. Aku pikir itu semacam pertanda baik bahwa ibu mulai merestui pernikahanku dengan Hendi. Namun, aku keliru. Sesampainya di Metro dan aku menelefon ibu, ibu marah-marah dan bilang jangan sekali-sekali lagi aku dan suamiku datang ke Kampung Sepu.
Aku memang tidak lagi datang ke Kampung Sepu. Bukan karena aku tak mau, tetapi karena aku tak pernah sempat. Setelah pernikahan kami, Hendi terus berlayar dan hanya beberapa kali berada di rumah sepanjang tahun. Aku mengajaknya untuk mengunjungi ibu di Kampung Sepu. Namun, Hendi selalu bilang nanti saja dengan berbagai macam alasan. Aku ingin pergi seorang diri ke Kampung Sepu, tetapi itu mustahil karena Hendi dan mertuaku tak memperbolehkannya.