Ziarah

Alhasil bertahun-tahun aku tak pernah ke Kampung Sepu dan ibu selalu memutus sambungan telefon tiap aku menghubunginya. Jelas saja itu membuatku cemas dan didera rasa bersalah. Ibu baru mau mengangkat telefonku sebulan silam, seminggu menjelang kematiannya. Kami mengobrol panjang dan lama sekali. Ibu banyak bercerita soal ayah dengan amarah membara-bara. Selain amarah, pada percakapan itu—yang kemudian menjadi percakapan terakhir kami—kata-kata ibu juga menguarkan kesenduan. Ibu mewasiatiku macam-macam dan mengenang banyak hal, termasuk perihal hubungannya dengan ayahku yang kandas ketika aku masih sekolah dasar.

Bibiku mengabari bahwa ibu meninggal karena penyakit darah tingginya yang kian kronis. Itu sebulan lalu. Hendi masih dalam pelayaran dan baru pulang tiga minggu setelahnya. Aku mesti menunda keberangkatan untuk mengunjungi Kampung Sepu.

***

AKU dan Hendi yang menggendong anak kami tiba di rumah bibi. Mulanya bibi seperti enggan menemui kami dan memasang ekspresi suram. Namun, begitu Hendi menyerahkan kardus berisi aneka oleh-oleh dan amplop tebal berisi uang kepadanya, bibi mulai melunak.

Setelah jumpa kangen dan meminta maaf kepada bibi dan sanak keluarga lainnya, aku dan Hendi lekas menyusuri jalan Kampung Sepu yang lengang dan berudara sejuk untuk berziarah ke makam ibu. Ibu dimakamkan di satu-satunya permakaman yang ada di Kampung Sepu. Sebuah permakaman tak terlalu lebar yang hanya berpagar kayu dengan pohon-pohon tinggi bertumbuhan di sekelilingnya.

Waktu itu siang sedang terik-teriknya dan permakaman kosong dari peziarah. Putra kami kutitipkan kepada bibi. Sebab ada mitos bahwa tak baik anak kecil dibawa ke permakaman. Berdua saja aku dan Hendi menjadi peziarah hari itu. Kami sudah menyiapkan sekeranjang kemboja. Guna menaburinya ke atas tanah makam ibu yang beium kering betul. Setibanya di hadapan makam ibu, aku menaburkan kemboja dan menangis sejadi-jadinya. Hendi hanya tertegun duka di sebelahku.

Arsip Cerpen di Indonesia