Ziarah

Aku masih menangis beberapa lama, hingga kemudian aku menyadari bahwa makam di sebelah makam ibu juga tampak baru. Bahkan lebih basah dari makam ibu. Tak seperti makam ibu yang penuh kemboja, makam itu tampak melompong dari bunga-bunga. Hanya gumpalan tanah, batu, dan kehampaan. Aku memperhatikan nama yang tertulis di atas nisan dan seketika mulutku ternganga. Itu adalah makam ayahku! Seorang pekerja kapal pesiar yang menyelingkuhi ibuku dan meninggalkan ibu dan aku begitu saja tanpa kabar.

Sepulang dari ziarah, aku menanyakan pada bibi soal makam di sebelah makam ibu.

“Itu balasan yang setimpal untuknya. Ia mati tenggelam dalam pelayaran terakhirnya. Jasadnya yang terkubur di makam itu pun sudah nyaris tak berbentuk. Ah, masih untung dia, kampung ini mau menerima jenazahnya dimakamkan di sini.” ***

Arsip Cerpen di Indonesia