Samar kuingat lelaki itu dipanggil dengan sebutan Petta Sodding. Dari namanya, ia sebenarnya bukan berasal dari lapisan masyarakat kelas bawah. Ia seorang keturunan bangsawan, sebuah strata yang cukup terpandang di kampung kami: kampung Bugis. Karena derajat kebangsawanannya itulah sehingga meskipun kehadirannya cukup menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi warga, ia tetap dibiarkan berada di kampung kami. Seingatku, ia tidak memiliki pekerjaan dalam pengertian sesuatu yang dapat menghasilkan nafkah, bahkan sekadar untuk mengisi perut. Kerjanya hanya berjalan mondar-mondar sepanjang jalan yang membagi dua perkampungan kami. Sambil berjalan ia tanggap melirik rumah yang dapat dijadikannya tempat persinggahan untuk sekadar mencari teman ngobrol sekaligus menumpang makan dan minum.
Pada usia yang cukup senja, hidupnya ia gantungkan dari belas kasih orang-orang di kampung kami. Tak jarang ia harus menerima sikap kasar dan diusir dari rumah salah seorang penduduk yang merasa terganggu dengan kehadirannya. Jika sudah begitu, ia akan segera pergi meninggalkan rumah itu sambil bersungut-sungut tidak jelas lalu pindah ke rumah lain yang penghuninya lebih terbuka menerima kadatangannya. Namun, paling sering orang-orang sengaja menutup pintu rumahnya demi menghindari kedatangan lelaki itu, terutama pada siang hari, pada waktu makan siang.
“Petta Sodding dulunya memiliki istri dan satu orang anak lelaki. Rumahnya terletak di pinggir kampung, agak terpencil dari permukiman warga kampung. Jika sudah memasuki rembang petang, kampung yang saat itu belum dialiri listrik terasa menakutkan dan mencekam bagi siapa saja yang melintas di depan rumah Petta Sodding. Entah sejak kapan ia meninggalkan rumahnya dan memilih hidup lontang-lantung dari panrung [1] ke panrung. Ia tidak pernah lagi mau menginjakkan kaki di rumahnya meskipun anak istrinya berurai air mata memintanya pulang ke rumah,” kata Bapak suatu ketika menjawab pertanyaanku perihal keluarga Petta Sodding.
“Ia dulunya orang kaya dan cukup terpandang di kampung ini. Hidupnya sangat enak. Karena hidup enak itulah sehingga membuatnya lupa pada fitrahnya sebagai manusia. Ia berlaku sombong dan kikir pada semua orang. Ia bahkan tidak sudi menerima tamu di rumahnya. Jika ada orang yang datang ke rumahnya, siapa pun itu, ia akan segera mengelap bekas jejak kaki orang itu di lantai rumahnya sesaat setelah orang itu melangkahkan kaki ke luar melalui ambang pintu. Ia tidak mau mengotori rumahnya dari manusia luar,” lanjutnya.
“Mabusungngi [2],” timpal Ibu sedikit sewot.
***