Lelaki Berselempang Sarung

Wangi baunya itu Petta Sodding na…

Nakalah ko semua…

Kukirim obrolan di grup sekadar menanggapi candaan mereka. Aku penasaran dari siapa ia mendengar nama Petta Sodding, lengkap dengan atribut yang dilekatkan orang kepadanya.

Ha ha ha…

Rupanya aku keliru. Petta Sodding tidak benar-benar dilupakan. Lelaki berselempang sarung itu bahkan sepertinya telah melegenda. Meskipun sosoknya tidak begitu istimewa, ada bagian tertentu dalam hidupnya yang membekas dalam ingatan kolektif warga di kampungku. Ingatan itulah yang acapkali dilontarkan oleh orang-orang dewasa kepada anak-anak yang dinilai berprilaku tidak wajar. Kalau dipikir-pikir, orang-orang di kampungku cukup cerdas dan tanggap terhadap realitas pada diri Petta Sodding. Dipilihnya bagian kisah yang menarik untuk dijadikan bahan kelakar, tetapi sekaligus bisa mendidik. Dengan begitu, meskipun samar, anak-anak dari generasi di bawahku sepertinya tidak asing dengan nama itu.

Kubiarkan ingatanku kembali mengembara pada sosok Petta Sodding. Pada suatu siang yang terik, kulihat ia sedang berjalan tertatih.

Mungkin ia lapar atau haus, batinku.

Tiba di depan rumah, ia berbelok melangkah memasuki halaman rumahku. Aku tercekat ketakutan. Di rumah tidak ada sesiapa. Bapak dan Ibu belum pulang dari kebun. Tidak biasanya mereka terlambat pulang. Aku ingin berlari masuk dan mengunci pintu, namun terlambat. Petta Sodding keburu melihatku duduk di lego-lego [3]. Ia langsung menaiki anak—anak tangga rumah kami. Dan Aku pun semakin gemetar.

“Minta air minum, Nak,” ucapnya.

Tanpa berkata sepatah pun, aku langsung berlari masuk ke dalam rumah. Mengisi gelas dengan air sepang, meletakkannya dalam tatakan lalu membawanya ke luar. Kurasa gelas bergetar di atas tatakan. Bukan karena aku tidak piawai membawa air minum, melainkan rasa cemas dan takut yang mengalir pada kedua tanganku.

Air dalam gelas ludes seketika.

“Minta ka nasimu, Nak,” ucapnya lagi.

Deg. Rasanya aku ingin menangis. Mengapa Ibu dan Bapak belum pulang?

Arsip Cerpen di Indonesia