Aku pun diam saja. Tidak lagi beraksi atas permintaannya yang terakhir. Rasa takutku terhadapnya saat itu melebihi ketakutanku pada cerita parakang atau peppo yang biasa dituturkan oleh Bapak menjelang Magrib. Ingin berteriak tapi lidah begitu kelu. Bahkan bernapas pun rasanya sulit kulakukan. Kurasakan diriku terlempar dalam pusaran waktu yang beku. Tak ada pergerakan.
Melihatku tidak berbuat apa-apa, Petta Sodding mendengus kesal. Memutar badan, menyusuri anak-anak tangga rumah kami. Di belakang lelaki berselempang sarung itu, aku terisak. Samar terdengar keluh-kesahnya,
“too to too to temmassappa…” [4]
“too to too to temmassappa…”
Tok tok tok
Aku pun tersentak. ***
Yogyakarta, 21 November 2018
Catatan kaki:
[1] Panrung (Bahasa Bugis): artinya ‘balai-balai’. Pada rumah-rumah Bugis, umumnya terdapat panrung di kolong rumah yang biasa dijadikan sebagai tempat berkumpul, beristirahat, dan berbincang santai.
[2] Kualat
[3] Teras rumah panggung yang terletak di bagian depan rumah.
[4] Ungkapan dalam bahasa Bugis yang artinya bahwa takdir itu sudah digariskan oleh Tuhan
Uniawati, perempuan Bugis yang mencintai sastra. Pernah mengikuti program penulisan esai yang diselenggarakan oleh Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) pada tahun 2013. Menulis beberapa buku cerita anak, di antaranya berjudul Ngkaa-Ngkaasi dan Putri Raja Babi, Putri Satarina dan Tujuh Bidadari, dan Waeruwondo dan Sepatu yang Hilang. Cerpen dan puisinya pernah dimuat dalam antologi bersama dan di media lokal, seperti Kendari Pos dan Rakyat Sultra.