Sekarang Letda Dias pun mati di tangan zombi seperti anak buahnya dulu, Sarman. Benarkah zombi itu kebal senapan? Dari manakah mayat-mayat hidup itu berasal? Aku melihat lagi tayangan video di telepon genggam Serka Otnawsis. Pada detik-detik terakhir kulihat wajah zombi yang sangat kukenal. Samuki!?
“Pause! teriakku kepada Serda Otnawsis. Otnawsis kaget dan bersicepat menekan tombol henti di layar telepon genggamnya. “Kau lihat, Otnawsis. Itu Samuki, bukan?! Lihat codetnya!” Tanganku menunjuk layar. Pada sebuah wajah yang pasi dan mulut belepotan darah. Dengan codet di alis kirinya.
“Benar Komandan, Samuki” pekik Serda Otnawsis.
“Otnawis,” kusarungkan pistol yang sedari tadi tergeletak di meja warung. “Katakan pada markas, kita menyerbu. Katakan juga, segera kirim pasukan tambahan dan pesawat tempur F-16. Kita akan bumi hanguskan desa.”
“Tapi, markas meminta kita menunggu instruksi lebih lanjut,” ujar Otnawis ragu-ragu. Sebagai anggota tim cadangan bertahun-tahun, ia memang belum pernah merasakan berhadapan langsung dengan desingan peluru musuh. Apalagi bertempur melawan hantu. Melawan mayat hidup. Ia tahu perintah komandan regunya itu adalah perintah menantang mara bahaya. Mengundang Izrail lebih cepat tiba di medan laga.
“Hei, Gembul” Letda Kajus, si letnan Rangers blasteran Jawa-Madura itu, menyoronglcan wajahnya tepat di depan wajah Serka Otnawsis. “Takut bertempur kamu ya? Takut itu sama Tuhan. Bukan sama setan. Perang itu fana. Cinta membela negara itu abadi. Kalaupun mereka menerjang, kita habisi. Kita adalah tentara terlatih. Tak ada tentara yang takut mati. Kalau takut mati, jangan jadi tentara. Jadi rempeyek saja.”
Sejenak kemudian kami telah membelah siang. Menyusuri jalan berbatu daerah yang gersang. Mengarah ke Desa Pahsiyah. Aku dan Serka Otnawsis duduk di bangku depan truk. Pratu Tirta di belakang kemudi. Truk yang membawa sepasukan tempur berjalan cepat menembus panas udara. Sesekali truk bergeronjal melindas kerikil dan bebatuan di sepanjang jalan hingga menimbulkan suara bising karena gesekan besi karat dan onderdil aus.
Dalam perjalanan yang melelahkan itu, aku terus membayangkan kejadian pada 25 Septernber 1993 di Pahsiyah. Ribuan orang mendekati petugas pengukuran tanah di Desa Pahsiyah yang tengah dikawal tentara. Pengukuran itu dilakukan untuk pembebasan lahan guna pembangunan waduk di Pahsiyah. Diperlukan lahan seluas 170 hektare yang membentang di tujuh desa. Termasuk tanah penduduk. Tentu saja, banyak warga yang menolak. Sebab, bagi warga desa, tanah adalah ibu. Pada tanah mereka menyusu. Menyambung hidup. Saat tanah-tanah mereka hendak dirampas atas nama modernitas atau apalah istilah keren lainnya, mereka akan menolak.