Kenangan dan Zombi

“Lakukan sesuatu, Letnan! Aku tak mau dimakan zombi,” teriak Serka Otnawsis mengiba. Senja terus larut ke dalam remang. Sebentar lagi gelap akan menerjang. Bersama kematian.

“Tirta, sudah kau nyalakan?”

“Siap, Letnan. Sudah!”

“Lakukan sekarang!”

BOM

Sebuah ledakan besar terjadi. Bola api membubung tinggi. Seperti ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Menyapu semua zombi. Termasuk tim Alfa pimpinan Letnan Kajus. Zombi-zombi bertebaran di udara. Lalu jatuh ke tanah menjadi serpihan daging dan tulang belulang. Bertumpuk-tumpuk membentuk gundukan mayat. Sungguh tak akan ada yang selamat dari ledakan berkekuatan bom 1 kiloton yang diledakkan dari bawah tangki bensin truk militer. Dan tak ada yang mengingat kejadian itu. Pertempuran berdarah atas nama sebuah waduk. Juga tak ada yang menyebutnya pahlawan.

Tapi tunggu! Mendadak sebuah tangan menyembul dari gundukan mayat yang nyaris jadi arang itu. Tangan itu bergerak hendak menggapai-gapai sesuatu. Tepat saat malam meleleh ke dalam tulang. Di bawah redup cahaya bulan. Tangan itu terus menggapai-gapai. Dan kini tangan itu sudah menyembul hingga lengan.

***

 “Sekarang kembalikan aku ke alam kubur,” teriak Letnan Kajus. Atau zombi itu akan menyerang lagi. Sebab, saat aku hidup, mereka juga akan hidup lagi. Seperti memutar mesin waktu.”

Ladrak mencari-cari buku Sillir yang di dalamnya ada mantra menghidupkan orang mati. Ia sengaja mencuri buku itu dari ruang gelap perpustakaan kota. Sebuah ruangan untuk menyimpan buku-buku sihir yang berbahaya. Ia melakukan itu untuk menghidupkan bapaknya hanya ingin tahu bagaimana bapaknya mati. Sebab, sampai ia dewasa, tak ada satu pun yang tahu kubur bapaknya. Padahal, bapaknya mati dalam operasi militer.

“Hilang! Lembaran mantra untuk membuat mayat hidup mati lagi itu hilang!” teriak Ladrak.

“Apa?! Bang …” Belum selesai sebuah kata diucapkan Letnan Kajus, kaca rumah Ladrak pecah. Segerombolan zombi masuk ke rumahnya. Berjalan gontai mendekati dia dan bapaknya. Aroma kematian menguar bersama malam yang kian tua. “Senjata!” teriak Letnan Kajus. Ladrak kontan berguling di lantai, menyambar SS (senapan serbu) di dinding dan melemparkannya kepada Letnan Kajus. Letnan Kajus kemudian menembak dan menembak sambil terus merapat ke dinding belakang rumah.

Arsip Cerpen di Indonesia