Kenangan dan Zombi

Ribuan orang itu terus merangsek. Mendorong aparat yang menjaga proses pengukuran lahan. Tiba-liba tembakan beruntun menyalak. Orang-orang berhamburan melarikan diri. Beberapa lainnya terkapar. Bersimbah darah. Salah satu di antara yang meregang nyawa itu, Samuki. Salah satu koordinator aksi. Tapi, kenapa dia sekarang bangkit lagi dari kubur dan mengganggu ketenteraman? Apa karena proses pengadilan para penembak tak pernah jelas dan tak memberikan kepuasan hukum kepada masyarakat? Apa karena mayat itu hidup lagi untuk membalas dendam? Apa…

Kami memasuki kawasan Waduk Pahsiyah saat matahari mulai surup. Tak ada tanda-tanda pembantaian seperti dalam video di telepon genggam Serka Otnawsis. Semua tampak tenang. Sepi dan mulai beranjak gelap. Tak ada juga bekas darah Seperti sebuah daerah yang ditinggalkan penduduknya karena gempa. Hanya suara aliran air deras dari Waduk Pahsiyah yang dulu ketika awal pembangunannya juga menumbalkan darah penduduk. Para serdadu di belakang truk berlompatan turun, lalu berpencar di sekeliling lokasi. Aku, Serka Otnawsis, dan Pratu Tirta berdiri di depan truk dengan senjata terkokang.

Tiba-tiba terdengar lolongan nyaring. Suara perempuan. Entah dari mana. Kami siaga. Beberapa serdadu berlindung di pohon jati. Mendadak air di Bendungan Pahsiyah menyusut dan menyusut. Hingga tersisa dasarnya. Dari dasar tanah itu, menyembul sejumlah tangan. Bergerak dan satu per satu mayat hidup itu bangkit. Berlipat ganda seperti bayangan di sebuah prisma benggala. Satu jadi dua. Dua jadi empat. Empat jadi delapan. Delapan jadi enam belas. Terus berbiak. Beratus-ratus makhluk gentayangan keluar. Berjuta-juta mayat hidup berjalan gontai mengepung Letnan Kajus dan pasukannya.

“Letnan, apa yang kita lakukan?!” teriak Serka Otnawsis sambil mengacung-acungkan senapan serbunya ke arah ribuan zombi yang terus mendekatinya.

“Tunggu! Biarkan mereka semua mengepung kita.”

“Letnan!?”

“Tunggu!”

Jutaan zombi terus mendekat dan mendekat. Mereka berjalan gontai dengan wajah pasi, penuh darah dan mengerang. “Kembalikan tanahhh kamii…kembalikan. Grrhhh.”

“Mereka seperti orang-orang yang dulu kita siksa dan kita tembaki, Letnan”

“Aku sudah tahu, Sersan. Tunggu kataku, tunggu!”

“Kita akan mati, Letnan!”

“Semua yang hidup akan mati”

Arsip Cerpen di Indonesia