Burung Bapak

Aku melihat bapak sekian lama dan kembali menatap burung-burung bapak yang lain yang terus saja berkicauan. Ada kedamaian terasa menyelubungi dadaku. Angin bertiup lembut dan suara bantingan pintu terdengar kembali. Sesaat bapak geleng-geleng kepala dan menghela napas yang panjang.

Bapak lalu beranjak dan menghampiriku. “Itu yang putih-putih namanya merpati. Merpati selalu menepati janji. Ia akan selalu kembali jika diterbangkan. Ia paham rumah dan tau kemana ia musti pulang.” Bapak menunjuk tujuh buah sangkar yang diletakkan di tanah. Sangkar-sangkar itu tidak digantung seperti sangkar yang berisi burung beraneka warna. Kebanyakan merpati bulunya putih, meski ada beberapa yang abu atau agak coklat. Burung-burung merpati itu setiap pagi akan dilepas untuk terbang secara bersamaan. Mereka biasanya akan bergerombol terbang dan berputar-putar di sekitaran areal rumah.

Sekitar setengah jam terbang, biasanya mereka akan kembali pulang. Singgah di genteng rumah lalu turun di pinggir sangkar dan bapak dengan mudah menangkapnya kembali. Banyak cerita bapak tentang burung-burung merpatinya. Sering beberapa dibawa ke pasar hari Sabtu. Pernah pula dijual lima ekor pada seseorang dari Pancor Manis. Namun selang beberapa hari, burung-burung merpati yang dijual itu balik lagi.

Baca juga: Sepasang Sapi Karapan – Cerpen A. Warits Rovi (Padang Ekspres, 09 Desember 2018)

Orang Pancor Manis itu tak mendengar kata Bapak, terlalu cepat ia menerbangkan burung-burung itu lagi, itu sebabnya mereka kembali, kata Bapak suatu pagi. “Padahal Bapak sudah pesan ke orang itu, minimal tiga Minggu baru bisa diterbangkan, ikat dulu sayapnya dengan tali rafia agar tak mampu mereka mengepakkan sayapnya. Dan waktu tiga Minggu cukup bagi burung merpati untuk mengenal dan memahami tempat barunya,” Bapak terus cerita. Suara batuk ibu terdengar. Lebih lama lebih keras, seperti disengaja.

“Itu-itu terus yang dibanggakan bapakmu. Merpatinya yang selalu kembali meski dijual beberapa kali.” Ada nada kesal dari ucapan ibu. Aku hanya manggut-manggut sembari menunggu ibu mengikatkan tali sepatuku.

***

Apalagi ketika Amaq Sunarep sering datang ke rumah. Ia dan bapak suka ngobrol berjam-jam. Selalu mereka membicarakan burung. Bagaimana cara merawat, mana pakan yang terbaik, bagaimana memandikan dan membuat kicauannya lebih merdu. Ibu dengan wajah datar biasanya akan datang menyuguhkan secangkir teh pada Amaq Sunarep. Selepas itu ibu akan menarik lenganku dan mengajakku masuk ke dalam.

Arsip Cerpen di Indonesia