Burung Bapak

Sejak kematian ibu, bapak sering terlihat murung. Bahkan burung-burungnya semua dijual. Sekian lama bapak tak melihara burung. Saat itu aku sudah lepas sekolah menengah atas dan bekerja pada sebuah perusahaan finance. Setiap pulang kerja, aku melihat bapak murung di korsi sofa. Ia tampak jarang bicara. Pernah aku coba ngobrol dengan bapak.

“Apa sebaiknya bapak melihara burung lagi? Biar tidak kesepian,” aku bicara dengan hati-hati. Tapi bapak tak menanggapi, tatapannya masih saja kosong.

Akhirnya setelah sekian lama membujuk, bapak beli satu burung lagi lengkap dengan sangkar. Bapak juga sering keluar bersama Amaq Sunarep. Entah ke mana. Biasanya malam-malam bapak akan balik ke rumah. Namun wajahnya tetap saja terlihat murung. Hingga seekor burung yang dibeli bapak mati kaku di dalam sangkar. Bapak sepertinya tak pernah mengurus burung itu.

Baca juga: Taman Penghapus Kenangan Terpahit – Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe (Padang Ekspres, 18 November 2018)

Tepat empat bulan sejak ibu meninggal. Ini kali pertama bapak mau bicara serius denganku. Lewat pesan singkatnya bapak nyatakan kalau ia ingin bicara. Maghrib aku pulang dan penasaran dengan apa yang hendak disampaikan bapak. Rasa lelah sehabis bekerja membuat tubuhku ingin segera istirahat, tapi bapak sepertinya sudah menunggu di sofa.

“Randuse, bapak ingin bilang sesuatu,” suara bapak datar dan ia menunduk.

Aku hanya terdiam sembari melepas jaket. Badanku sepertinya harus dibaringkan setelah seharian bekerja.

Baca juga: Bangku Tua Milik Bapak – Cerpen Riyan Prasetio (Padang Ekspres, 11 November 2018)

“Burung bapak butuh sangkar,” Bapak bicara lagi. Aku riang bukan main, ternyata bapak mau melihara burung lagi. Aku hanya tersenyum selepas ngangguk-ngangguk dan meninggalkan bapak untuk masuk ke kamar.

Besoknya di sela waktu kerja, aku mampir ke sebuah toko. Mencari sebuah sangkar bagus untuk bapak. Aku membeli sebuah sangkar dengan harga lumayan. Maghrib saat pulang, aku tak sabar memperlihatkan sangkar itu pada bapak.

Namun di sofa, bapak sudah duduk dengan seorang perempuan manis. Umur perempuan itu sepertinya hanya lebih dewasa sepuluh tahun dariku. Aku terdiam. Tak mengerti dengan apa yang kulihat.

Arsip Cerpen di Indonesia