Burung Bapak

“Jangan dengarkan omongan mereka. Tak ada gunanya, Randuse. Lebih baik kamu masuk kamar dan belajar membaca,” Ibu terus bicara. Sesekali ia menggerutu sembari merapikan beberapa pakaian yang kusut di lemari.

Saat umurku 14 tahun, bapak sering minta bantuan membelikan pakan untuk burung-burungnya. Toko penjual pakan burung bisa ditempuh hanya dengan waktu 10 menit jika berjalan kaki dari rumah. Aku senang jika disuruh membeli, di toko itu juga banyak menjual burung, dan aku suka melihat burung-burung dengan corak warna beraneka ragam. Jika ibu tau aku disuruh membeli pakan, ia pasti akan marah. Itu sebabnya aku tak pernah cerita pada ibu. Pernah ibu marah bukan kepalang saat aku diserempet sepeda motor saat tengah asyik berjalan menuju toko pakan burung itu. “Sudah saya bilang, jangan suruh Randuse untuk membeli pakan. Kamu saja yang pergi sendiri,” Suara ibu keras. Bapak hanya terdiam dan sibuk mengoles luka di betisku dengan minyak Sumbawa. Ibu terus-terusan ngomel. “Sudah panas, jalan kaki, tega sekali kamu nyuruh Randuse. Ia masih kanak-kanak. Jangan paksakan ia menyukai apa yang kamu suka.”

Baca juga: Sempurna – Cerpen Guntur Alam (Padang Ekspres, 02 Desember 2018)

Ibu akhirnya diam sendiri sebab sedari tadi ayah tak menimpali. Ia pun pergi dan membanting pintu. Bapak hanya menggeleng. Sementara aku hanya meringis menahan perih akibat minyak yang dioles bapak.

***

Burung bapak semakin banyak saja. Semakin beraneka ragam. Beberapa sering menang dalam perlombaan. Banyak yang menawar dengan harga lumayan, sampai jutaan. Ibu sering menyuruhnya menjual saja. Namun bapak tak pernah mau. Ada seekor burung dikasi nama “Raihan”. Raihan sering juara dan terkenal. Burung itu ditawar seharga lima juta oleh Haji Sabri. Setiap hari Haji Sabri datang untuk meminang. Namun bapak tetap tak ingin menjual.

Suatu pagi, Raihan ditemukan terbujur kaku di dalam sangkar. Burung malang itu ditemukan tewas, entah sebab apa. Aku melihat kesedihan di raut wajah bapak. Bapak dengan sabar memakamkan bangkai burung juara itu. Bapak diselubungi perasaan sedih, perasaan yang juga menyelubungi hati bapak saat ibu meninggal akibat diabetes yang dideritanya. Ibu opname sepuluh hari sebelum meninggal di kamar kelas dua sebuah rumah sakit umum.

Arsip Cerpen di Indonesia