2
Memang benar, kata Nur Laila, lelaki itu sangat ganteng di zaman kami sekolah dahulu. Perempuan mana yang tidak lekat sama dia. Bahkan si cantik Annisa Khalifah Abdillah pun pernah jatuh hati padanya. Ini saya tahu dari kawan Annisa. Saat itu saya kecewa. Si Tampan (begitu kami menggelarya) itu ciri-cirinya kira-kira begini, rambut ikal, badan atletis. Tinggi. Hebat beladiri, karate, silat dan taekwondo. Semua segan kepadanya. Kehebatannya itu dibuktikan dengan menjuarai berbagai lomba, khusunya dalam bidang beladiri. Sekolah kami, waktu itu, sangat disegani. Sementara di bidang pelajaran, dia juga jago sains. Ilmu hitung semua dilibas. Guru pun segan kepadanya. Bukan hanya karena ketampanannya, melainkan kepandaian dan kesopanannya.
Banyak laki-laki di sekolah kami iri kepadanya. Baik di bidang asmara maupun di bidang pelajaran. Mau dikeroyok, tidak sanggup. Dia hebat bela diri. Rata-rata para laki-laki itu hanya gigit jari.
Dia jarang pula bergaul. Kawan akrabnya hanya beberapa orang saja. Selebihnya, kawan begitu saja. Bagaimana tidak, semua pada segan berkawan dengannya. Jika ada laki-laki yang berkawan dengannya, orang lain pasti sudah menebak duluan, orang itu pasti ingin memanfaatkan ketampanannya untuk mendekati seorang perempuan. Hanya saja, perempuan yang didekati itu, sudah bakal tidak suka dengan pria yang berkawan dengan lelaki tampan itu. Malah si perempuan lebih memilih dekat dengan Si Tampan.
Ada juga sebagian berpendapat, bahwa berkawan dengannya itu hanya memanfaatkan situasi saja, yakni ketika ujian. Dengan berkawan dengan Si Tampan, maka beberapa soal ujian bisa tertolong. “Dia anak yang baik. Tidak pelit,” kata seorang siswi yang pernah ditunjukkannya satu jawaban soal ujian waktu itu.
Memang dia anak yang baik dan sopan. Sebenarnya dia tidak suka memilih-milih kawan. Tapi, orang segan kepadanya, karena ketampanannya dan kepandaiannya. Tapi, sebanyak itu siswi yang keseleo matanya bila berhadapan, tak satu pun siswi yang dipacarinya di sekolah kami waktu itu. Pernah ada seorang kawannya yang dengan iseng menanyakan tentang pacar, tapi si pemuda tampan itu hanya menggeleng saja. “Apa kamu homo?” tanya kawannya dengan sedikit gurauan. “Aku ingin menikah dahulu, baru pacaran,” jawabnya. Namun pada waktu itu, kawannya tidak bisa menafsirkan dengan saksama arti dari perkataan Si Tampan.