Cerita Lama

Semenjak kami masuk sekolah, baru ketika mau tamat saya baru tahu sedikit tentang seluk-beluk keluarga Si Tampan. Wajar dia bersikap seperti itu, alim dan sopan. Dia punya ayah seorang ustad yang mengajar di sebuah pesantren, dan tamatan salah satu perguruan tinggi agama. Sementara ibunya seorang pengurus rumah tangga dengan latar pendidikan sarjana pula dan sangat taat kepada suaminya.

Dia sangat sempurna ketika kami masih sekolah dahulu. Jika dia mati pada waktu itu, tentu surga baginya. Tunai.

***

Dalam acara reunian ini, para perempuan yang sempat kecewa dengan tidak diterima cintanya oleh Si Tampan, sering diolok-olok. Saya pikir bukan hanya seorang dua saja, melainkan seluruh perempuan di meja ini sempat patah hati waktu itu. Bukan karena mereka tidak cantik, melainkan sebaliknya, mereka pun termasuk perempuan yang diperhitungkan waktu itu. Hanya saja, Si Tampan tidak membuka hatinya kepada perempuan manapun di sekolah kami maupun di luar sekolah kami waktu itu. Perempuan-perempuan di meja ini dengan geli menceritakan bagaimana kejadian mereka jatuh hati kepada Si Tampan, satu per satu. Sementara kami laki-laki dengan tenang mendengar cerita mereka, cerita yang sudah terjadi bertahun-tahun lampau.

Pertemuan kami kali ini memang sangat indah dan berkesan. Laki-laki dan perempuan membawa bini dan suami serta anaknya, bagi yang sudah menikah dan punya anak. Ada juga di antara kami yang belum menikah. Kebanyakan laki-laki.

Setelah berbincang-canda selama itu, baru saya teringat seseorang. Saya lihat di sekeliling kami. Tidak ada. Saya beranikan diri untuk bertanya, “Di mana Abdul Ghani, Si Tampan ? Mengapa tidak diundang?” pertanyaan itu membuat semua orang terdiam seketika. Saya heran mengapa mereka diam?

“Ya,” cetus perempuan-perempuan yang pernah patah hati waktu itu. Barulah semua perempuan berceloteh lagi. Mengutuk perbuatan Abdul Ghani, Si Tampan itu.

“Jika dia datang, aku akan menanyakan kepadanya seperti ini,” dengan penuh ekspresi Nur Laila membuat lelucon di hadapan kami dan suaminya serta anaknya yang masih kecil. “Abdul Ghani, Si Tampan mengapa kauberani menolak cintaku dahulu?!” sambungnya. Suami Nur Laila hanya tersenyum datar. Nur Lailalah yang merasakan langsung efek cinta yang ditolak mentah-mentah oleh Abdul Ghani i waktu itu. Makanya dia juga yang paling nyinyir bila membahas tentangnya.

Arsip Cerpen di Indonesia