Semua bersorak-sorak melihat aksi Nur Laila. Perempuan memang banyak ekspresi bila bertemu dengan kawan lama. Mereka tak segan-segan membuat lelucon yang tak pantas dipertontonkan. Bahkan tak sesuai dengan paras wajah mereka yang kian cantik saja.
Nur Laila memang sangat cantik saya lihat. Walaupun ada yang paling cantik, si kembar Sakinah dan Warahmah. Sayang, semuanya sudah menikah. Saya pernah jatuh hati pada Sakinah. Tapi tidak pernah saya utarakan.
Setelah semua perempuan yang duduk di meja tenang, saya mengungkit lagi tentang Abdul Ghani, “Mengapa tidak diundang? Apakah dia sudah menikah?”
Semua perempuan terdiam dan terlihat gugup.
“Sudah,” jawab Qori. Semua perempuan melepaskan nafas panjang dengan kemurungannya sendiri-sendiri.
Qori ini adalah kawan baik dan sangat dekat dengan Abdul Ghani bila dibandingkan dengan kami semua. Jadi, hingga kini pun, mereka masih berteman karib. Berdasarkan penjelasan Qori, dia sempat kehilangan kontak dengan Si Tampan. Mereka tidak pernah berjumpa. Namun, saat Si Tampan menikah, Qori turut diundang pula. Mulai saat itu, mereka menjalin lagi komunikasi sampai saat ini.
Qori sebenarnya sudah mengajak Si Tampan datang ke reuni. Tapi kali ini Abdul Ghani tidak bisa datang, karena mengajar di sekolah tempat ayahnya mengajar dulu. Tapi, jika ada waktu nanti, setelah jam pelajaran usai Abdul Ghani akan datang.
“Tentulah cewek yang menjadi isterinya sangat cantik,” sesal perempuan yang duduk di sebelah Warahmah.
“Tentu. Cewek pilihan Abdul Ghani melebihi kita ini,” cetus Nur Laila lagi sambil melihat kepada suaminya yang pura-pura tidak mendengar perkataan isterinya.
“Cantik memang,” jawab Qori. “Tapi yah, begitulah nasib manusia siapa yang tahu,” jelas Qori menanggapi celoteh teman-temannya.