Cerita Lama

“Orang mana isterinya, Qor,” tanya ketua kelas kami dahulu.

“Orang kita juga,” tukasnya sambil bercanda.

“Seriuslah,” keluh Annisa yang duduk di sebelah Warahmah.

Sambil tertawa Qori menjelaskan, bahwa Abdul Ghani, Si Tampan yang membuat hati perempuan meleleh dengan ketampanan dan kepadaiannya itu, telah menikah dengan seorang janda yang sudah beranak. Kalian tahu janda yang dinikahi itu? Kami semua diam menunggu kelanjutan Qori. “Guru kita, isteri Pak Rajab almarhum!”

Semua yang duduk di meja itu melompat dan terpekik dan mengulang kata-kata Qori yang terakhir “Guru kita, isteri Pak Rajab almarhum?!” “Janda. Tua? Dengan dua orang anak itu,” sambung perempuan serempak. Setelah Qori menjelaskan panjang lebar bagaimana perknikahan itu terjadi, tidak ada lagi percakapan mengenai Si Tampan. Kami semua berdiam saja mendengar pejelasan Qori. Perempuan-perempuan di meja ini tidak ingin berbicara satu pun. Sepertinya, cerita mengenai Abdul Ghani, Si Tampan itu sudah tidak perlu lagi dibahas. Sudah basi. Hanya kami, laki-laki saja yang terus berceloteh.

Tiba-tiba seseorang memarkir sepeda motornya di parkiran kafe. Kami bisa melihatnya dengan jelas. Sebab jarak antara parkir dengan tempat kami duduk tidak terlalu jauh. Seseorang yang duduk di belakangnya sambil menggendong seorang anak kecil mengikuti Abdul Ghani dari belakang.

“Itu. Itu. Ituuuuu…..” pekik geli perempuan yang duduk di meja ini.

 

Gosong Telaga, 2018

Riyon Fidwar, lahir di Haloban, Agustus 1990. Sekarang menetap di Ketapang Indah, Gostel, Aceh Singkil.

Arsip Cerpen di Indonesia