Mereka melewati perkebunan sawit yang gerah dengan meninggalkan jejak debu beterbangan di belakang. Perkampungan itu jauh dari pusat kota, jauh dari kepulan asap pabrik, jauh dari laut, tetapi seolah sangat dekat dengan matahari. Mungkin terpengaruh kondisi keamanan yang memang sedang panas setelah tentara mendapat laporan intelijen tentang lokasi persembunyian kelompok pemberontak. Tentara mengirim dua helikopter Bolkow dengan deretan moncong meriam di kedua sisinya. Beberapa meriam sudah ditembakkan ke kawasan hutan yang diduga jadi tempat persembunyian pemberontak, tadi pagi, sebelum Ester sempat melepaskan hajatnya setiap pagi. Hasrat mendapat gambar eksklusif itulah yang memaksanya mengorbankan rutinitas pagi yang kini membuatnya menderita. Wajah putihnya terlihat pucat dengan butir-butir keringat di permukaan kulit. Kedua telapak tangannya mengelus-elus perut seperti hendak melahirkan. Agus sempat tertawa melihat rupa sahabatnya. Tapi setelah dimaki, ia memilih diam dan merasa sudah sepantasnya mendapatkan itu. Pikirnya, orang kebelet berak sama sengsaranya dengan sakit gigi. Dalam derajat berbeda, Agus juga pernah merasakan suasana seperti itu. Bedanya, ia bisa membuang hajat di mana pun dalam keadaan darurat. Beda dengan Ester yang sejak kecil tak pernah hidup susah.
Baca juga: Seperangkat Alat Teror – Cerpen Eko Triono (Tribun Jabar, 09 Desember 2018)
Sudah hampir satu kilometer mereka berjalan tetapi belum menemukan satu bangunan pun. Ketika kebun sawit sudah jauh tertinggal di belakang, mereka melihat sebuah bangunan beton berwarna kusam di kejauhan. Bentuknya seperti rumah toko, tetapi setelah dekat, ternyata sebuah warung kopi. Beberapa orang sedang ngopi, mengobrol, atau menonton TV. Mereka terlihat seperti pekerja perkebunan. Mengenakan sepatu bot berbahan karet, topi laken, dan pakaian lusuh. Beberapa di antaranya mengenakan kaus oblong partai politik.
“Kalau bangunannya bagus, WC-nya bisa jadi bagus meski tidak terlalu bersih,” kata Agus sambil memperlambat laju mobil. Ester hanya mengangguk sambil mengisyaratkan tangannya untuk berhenti.
Di luar, sejumlah pemuda berdiri di tengah jalan juga menghentikan mobil dengan isyarat tangan Agus hendak turun, tetapi seorang di antara pemuda itu sudah berdiri di dekat pintu dengan tatapan curiga. Beberapa temannya kini berdiri di samping kiri dan kanan pintu mobil. Seketika, Ester dan Agus mencium gelagat tidak beres.