Parut di Atas Alis

Pemuda itu meminta mereka mengeluarkan KTP.

“Kami wartawan,” sahut Agus. Pengalaman meliput di daerah perang mengajarinya untuk menyebutkan identitas jurnalis karena biasanya lebih aman sebab cenderung diterima semua pihak bertikai. Namun, tidak kali ini.

“Memangnya kenapa? Wartawan punya banyak dosa di sini. Kalian yang mengundang tentara dengan berita-berita keliru. Cepat, mana KTP-nya!”

Baca juga: Sinden Sunyi – Cerpen A. Warits Rovi (Tribun Jabar, 02 Desember 2018)

Sekejap, Ester lupa dengan desakan dalam perutnya. Dengan gemetar ia mencari KTP dan baru sadar dompetnya tertinggal. Sedangkan KTP milik Agus kini sudah berada di tangan pemuda itu. Ketika pemuda itu sedang mengeja data di KTP Agus, Ester memperhatikan lelaki itu dengan saksama. Sepertinya ia tidak bersenjata, kecuali tersembunyi di balik pinggangnya.

Agus juga memperhatikan wajah lelaki itu. Bekas luka di wajah lelaki itu seperti menjelaskan dari kelompok mana ia berasal. Sorot mata lelaki itu sama sekali tidak bersahabat.

Suasana terasa tegang, tetapi orang-orang di warung kopi itu terus mengobrol dan menonton seperti tidak terjadi sesuatu. Bahkan sesekali terdengar suara tawa, bertolak belakang dengan suasana di dalam mobil.

Baca juga: Siluman Sungai Citarum – Cerpen Eriyandi Budiman (Tribun Jabar, 18 November 2018)

Ester benar-benar lupa dengan rasa sesak di perutnya ketika pemuda itu menyuruh mereka turun. Di luar dugaan, Agus tiba-tiba menginjak pedal gas sehingga mobil seperti melompat dari tempatnya. Pemuda yang berdiri terlalu dekat pintu mobil sampai terjengkang saking kagetnya. Tubuhnya mendarat di jalan berbatu dan berdebu. KTP milik Agus mendarat di atas dadanya. Orang-orang di warung kopi berlarian mencoba menghentikan mobil, tetapi mereka hanya bisa menghirup udara bercampur debu dan kepulan asap.

Orang-orang yang berpenampilan seperti pekerja sawit itu kembali ke warung kopi. Setelah membereskan semua peralatan, mereka meninggalkan tempat itu karena sadar apa yang akan terjadi berikutnya.

***

Arsip Cerpen di Indonesia