Parut di Atas Alis

Setelah berjalan mondar-mandir di depan para lelaki itu, ia merasa menemukan sebuah tanda yang tak terlupakan. Pemuda yang menghentikan mobilnya memiliki parut di atas alis sebelah kanan. Parut itu terlihat dalam posisi miring seperti seekor anak lintah yang menempel. Agus melihat parut serupa di dahi seorang anak muda di dalam barisan. Warna kulit lelaki itu sama hitamnya dan perawakan sama tingginya. Agus melihat dengan saksama. Setelah yakin—dari jarak sekitar satu meter—ia langsung mengarahkan telunjuknya ke dada pemuda tersebut. Dia kembali ke mobil sehingga tidak melihat kejadian selanjutnya.

Baca juga: Laki-laki yang Datang dari Surga – Cerpen Zainul Muttaqin (Tribun Jabar, 07 Oktober 2018)

Dua prajurit menyeret lelaki itu ke belakang warung diikuti perwira. Tidak ada satu orang pun yang bersuara saat langkah-langkah mereka terayun tergesa ke belakang warung, berbaur dengan sejumlah tentara yang sudah berjaga di sana. Yang terdengar hanya iklan sebuah partai politik di TV dan disusul dua kali suara tembakan. Para pekerja kebun yang berbaris di pinggir jalan dengan dada telanjang tak bisa membedakan suara letusan itu berasal dari senjata api laras pendek atau laras panjang. Bahkan ada di antara mereka yang mengira suara tembakan berasal dari TV.

Di dalam minibus yang mulai bergerak pulang, Agus tiba-tiba teringat dengan parut di atas alis pemuda yang mengancamnya. Kini terbayang nyata di pelupuk matanya, parut itu memang terletak di sebelah kanan, tapi pemuda yang mengancamnya itu juga memiliki parut lain di atas alis kiri. (*)

 

Ayi Jufridar, bekerja sebagai jumalis dan penulis fiksi di Lhokseumawe, Aceh. Cerpen-cerpennya dimuat di berbagai media cetak daerah dan nasional. Empat novel yang sudah terbit Alon Buluek (2005), Kabut Perang (2010), Putroe Neng (2011), dan 593 KM Jejak Gerilya Sudirman (2015).

Arsip Cerpen di Indonesia